Gardi Gazarin ICK Sebut Janganlah Tambah Beban Rakyat Melawan Covid-19 Dengan Maraknya Aksi Penembakan

 

Gardi Gazarin ICK Sebut Janganlah Tambah Beban Rakyat Melawan Covid-19 Dengan Maraknya Aksi Penembakan

 

JAKARTA | Jurnalexpress.com,-  Belum terungkapnya penembakan yang menewaskan wartawan media online, Mara Salem Harahap alias Marsal Harahap (42), di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut), pada Sabtu (19/6/2021) dini hari, yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) Polri, kini dua rentetan penembakan yang dilakukan orang tak dikenal (OTK) terjadi Ibukota RI Jakarta, membuat PR Polri semakin bertambah.

 

Merajalelanya penembakan ini dapat membuat susana keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) terganggu dan rasa kepercayaan masyarakat akan berpengaruh pada kinerja Polri yang merupakan ujung tombak penjaga Kamtibmas.

 

Dua aksi penembakan brutal terjadi di Jakarta, di mana seorang pengendara Toyota Fortuner nekat melakukan aksi koboi dengan menembakkan pistol di dekat Kompleks Pati Polri di Jalan Prof Joko Sutono, Melawai, Kebayoran Baru, Sabtu (21/6/2021) malam.

 

Teranyar, seorang pelajar MIS (18 tahun), kritis ditembak orang tak dikenal di Jalan Mangga Besar VI D Taman Sari, Jakarta Barat, pada Selasa (22/6/2021).

 

“Rentetan maraknya perisitiwa penembakan bila Polri tidak sungguh-sungguh mengungkap dan menangkap pelaku sampai aktornya akan menambah ketakutan masyarakat saat bertahan di tengah wabah pandemi Covid-19,” kata Ketua Presidium Indonesia Cinta Kamtibmas (ICK), Gardi Gazarin, SH, dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (22/6/2021).

 

Lebih lanjut wartawan senior media Ibukota ini mengatakan, Polri tidak saja segera menangkap pelaku penembakan di tiga tempat kejadian perkara (TKP) wilayah Ibukota Jakarta dan Medan Sumatera Utara tapi juga harus mampu membuka motif pelaku kepada masyarakat.

 

“Motif maupun latar belakang aksi penembakan khususnya di tiga TKP itu harus dibuka terang benderang ke publik, agar masyarakat luas mengetahuinya latar belakang dan modus aksi brutal jalanan itu,” ujar Gardi Gazarin.

 

Dari tiga rentetan peristiwa penembakan kata Gardi Gazarin, dapat memicu dan menjadi situasi darurat Kamtibmas yang meneror masyarakat di tengah melawan wabah pandemi Covid-19. Peristiwa penembakan yang menewaskan wartawan di Sumut sungguh memilukan di saat Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo memerintahkan jajarannya memberantas premanisme dari hulu ke hilir Kemudian dua peristiwa terjadi di Ibukota Jakarta yang wilayah hukumnya menjadi barometer Kamtibmas di Indonesia.

 

“Di Sumut telah jatuh korban wartawan tewas. Di Jakarta pelajar jadi korban mengalami kritis tengah dirawat di rumah sakit, dan aksi teror mematikan penembakan justru terjadi di samping Kompleks elit Pati Polri. Ketiga peristiwa ini, apalagi terjadi di Ibukota Negara bisa menimbulkan ancaman dan teror terhadap masyarakat. Ini dapat berakibat ketidak-percayaan masyarakat pada penjagaan Kamtibmas. Jangan sampai masyarakat yang tengah berjuang melawan darurat Covid-19 justru merasa saat ini terjadi darurat Kamtibmas,” kata Ketua Forum Wartawan Polri (FWP) periode 2014 – 2016 ini.

 

Selain segera mengungkap dan menangkap pelaku penembakan di tiga TKP, Gardi Gazarin menyarankan Kapolri untuk seluruh Kapolda melakukan screening atau pendataan ulang dengan meregistrasi kepemilikan senjata api baik yang digunakan TNI – Polri maupun untuk masyarakat sipil.

“Dari selongsong yang didapat di tiga lokasi penembakan jelas sudah menunjukkan fakta senjata api organik. Untuk itu Kapolri dan Panglima segera melakukan screening semua senjata api yang dimiliki personel Polri dan TNI. Jangan sampai senjata yang dibeli dan untuk membela rakyat justru disalah-gunakan untuk membunuh masyarakat,” katanya. (Sis).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *