Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS Beri Kuliah Umum Di Unram NTB: Penting Penguasaan Inovasi Iptek

Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS Beri Kuliah Umum Di Unram NTB: Penting Penguasaan Inovasi Iptek

 

 

Jakarta | Jurnalexpress.com,- Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University mengungkapkan (Senin 24 Mei 2021) bahwa sejarah dan fakta empiris membuktikan, bahwa bangsa yang maju, makmur, dan berdaulat sejak masa Kejayaan Romawi, Era Keemasan Umat Islam (Fathu Makkah 645 M – berakhirnya Khilafah Utsmaniyah Turki 1924 M), hingga hegemoni Kapitalisme (1924 M – sekarang) adalah mereka yang memiliki SDM berkualitas yang mampu menguasai, menghasilkan, dan menerapkan hasil riset (inovasi iptek) dalam segenap aspek kehidupan bangsanya.

 

 

MATARAM – NTB. Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University, kemarin (Senin 24/05/2021) mengisi kuliah umum yang diadakan oleh Universitas Mataram (Unram), Mataram, salah satu kampus universitas negeri terdepan di kawasan Nusa Tenggara Barat (NTB) dan sekitar yang didirikan pada 1 Oktober 1962.

 

Di depan civitas akademika Unmram pimpinan Rektor Prof Dr Lalu Husni tersebut, Prof Rokhmin Dahuri menyampaikan suatu makalah dengan judul “Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) untuk Mendukung Pembangunan Ekonomi Berbasis Blue Growth Menuju Provinsi NTB yang Maju, Sejahtera, Mandiri dan Diberkahi Tuhan YME”.

 

Salah satu yang khas dari Prof Rokhmin, tak lupa memberi gambaran tentang pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkeseimbangan berlandaskan Ketuhanan.

 

Di hadapan civitas akademika Unram yang afiliasi Asosiasi Institusi Pendidikan Tingga Asia Tenggara itu, hal penting yang ditekankan oleh Prof Rokhmin Dahuri dalam kesempatan tersebut adalah inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

 

“Sejarah dan fakta empiris membuktikan, bahwa bangsa yang maju, makmur, dan berdaulat sejak masa Kejayaan Romawi, Era Keemasan Umat Islam (Fathu Makkah 645 M – berakhirnya Khilafah Utsmaniyah Turki 1924 M), hingga hegemoni Kapitalisme (1924 M – sekarang) adalah mereka yang memiliki SDM berkualitas yang mampu menguasai, menghasilkan, dan menerapkan hasil riset (inovasi iptek) dalam segenap aspek kehidupan bangsanya,” ungkap Prof Rokhmin Dahuri.

 

Tak lupa Prof Rokhmin mengutip O’Connor and Kjollerstrom, 2008; Altbach and Salmi, 2011; dan Guggenheim, 2012 yang menandaskan, soal kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa ditentukan oleh ‘innovation-driven economy’. Terlebih, masih kata Prof Rokhmin, dalam kehidupan di dunia yang hyper interconnected dan globalisasi yang salah satu ciri utama adalah free trade and competition, sehingga inovasi menjadi kunci untuk memenangkan persaingan tersebut.

 

Namun disayangkan, lanjut Prof Rokhmin Dahuri bahwa hampir semua indikator yang terkait dengan kapasitas iptek, riset, inovasi, dan kualitas SDM bangsa Indonesia, masih rendah alias tertinggal.

 

Prof Rokhmin pun mengajak seluruh civitas akademika Universitas Mataram agar terus meningkatkan invensi dan inovasi.

 

“Invensi menghasilkan idea atau konsep baru, lalu inovasi mengubah konsep baru itu menjadi komersial atau penggunaan lebih luas,” tandas Prof Rokhmin seraya mengutip Gaynor, G. H. 2002, “Inovasi = invensi X komersialisasi”.

 

Prof Rokhmin Dahuri juga menjabarkan cara menginisiasi inovasi.

 

“Pertama, jangan takut gagal,” tandas Prof Rokhmin. Menurutnta, kegagalan harus jadi pelajaran untuk perbaikan melakukan inovasi ke depan. Inovasi tidak akan terjadi, tanpa risiko. Terobosan atau inovasi tidak akan terjadi bila organisasi baik itu pemerintah, swasta, industri, koperasi, lembaga pendidikan, dan lain-lainnya memilih untuk terus bermain aman di comfort zone. “Civitas akademika harus diyakinkan bahwa kegagalan adalah bagian dari eksperimen yang harus dilalui, demi inovasi,” jelas Prof Rokhmin yang juga Ketua Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara, MPN ini.

 

Kedua, menurut Prof Rokhmin, perlu sumber daya, waktu, dan tempat berinovasi yang mencukupi dan tepat, serta SDM yang memiliki semangat/kekuatan growth mindset.

 

Lantas yang ketiga, orientasi eksternal. Menurut Prof Rokhmin setiap civitas akademika Universitas Mataram perlu belajar dari realitas kehidupan di luar kampus yang diantaranya meliputi pemerintahan, industri (swasta), masyarakat, dan perguruan tinggi lain di dalam maupun luar negeri, terutama tentang kebutuhan iptek (inovasi).

 

Kemudian keempat, menurut Prof Rokhmin yang juga Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), menerapkan ‘design thinking’. “Inovasi berpusat (berawal) dari lapangan (bottom-up), bukan di pucuk pimpinan,” tandas Prof Rokhmin yang juga Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan – RI tahun 2020 – 2024. Pendapat Anda? Sms atau WA kesini= 081216271926. (Siswahyu).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *