Pemikiran politik kebangsaan A.M.Sangadji 

Pemikiran politik kebangsaan A.M.Sangadji

 

(sebuah perspektif bagi kaum muda) oleh : Mony Kamil

 

Jakarta | Jurnalexpress.com,- Salah satu sikap nasionalisme kaum muda adalah belajar memahami sejarah perjuangan dan pergerakan nasional agar tuntas membaca Indonesia secara utuh.

 

Indonesia telah melahirkan begitu banyak pejuang kemerdekaan yang gigih dalam mempertahankan apa yang menjadi prinsip (hak dasar) guna membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu kolonial kemudian wafat sebagai kesuma bangsa

pejuang-pejuang kemerdekaan itu ada yang sudah dilabeli gelar Pahlawan nasional tetapi ada pula yang hingga detik ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah Republik Indonesia hal ini tentu menjadi catatan kritis bagi kaum muda Indonesia yang melek akan sedjarah bangsanya bagaimana pertanggungjawaban kaum muda Indonesia dalam upaya mengisi kemerdekaan mewujudkan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab,persatuan Indonesia dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

A.M.Sangadji atau Abdul Muthalib Sangadji adalah satu diantara pejuang perintis kemerdekaan republik Indonesia di jaman pergerakan nasional dahulu tokoh senior yang bergerak serta berjuang dengan duo sahabat karibnya H.O.S.Tjokroaminoto dan Hadji Agus Salim dalam syarikat Islam ini sering dijuluki Jago toea (pemimpin toea) oleh surat kabar terbitan Ibukota Republik, Hindeburg -Kalimantan , S.K.Merdeka -Solo.

Lahir 03 djuni 1889 di Rohomoni, di kecamatan pulau haruku, kabupaten maluku tengah, provinsi Maluku, dan wafat sebagai kesuma bangsa di Jogjakarta tengah malam pukul 24.00.WIB karena ditembak oleh PKI 08 mei 1949 seketika itu pula beliau berlumuran darah dan menghembuskan nafas terakhir.

terkait hal ini kami ingin sedikit meluruskan kehadapan pembaca (publik Indonesia) bahwasanya A.M.Sangadji bukanlah meninggal dunia pada tahun 1947.

 

Darah juang A.M.Sangadji memang sudah diwariskan oleh para leluhurnya pada saat perang Alaka berkecamuk (1629 – 1637) di negeri Rohomoni jazirah hatuhaha dan dari garis keturunan ibundanya siti saat pattisahusiwa putri raja siri sori islam abdul madjid pattisahusiwa yang merupakan turunan langsung said perintah (pattikakang pattisahusiwa) raja pertama negeri siri – sori islam di pulau saparua yang berjuang menentang penjajah belanda pada perang Pattimura 1817 sekaligus bersama Sarasa Sanaky patih siri sori Islam menandatangani ‘Proklamasi Haria’ 29 mei 1817

 

A.M.Sangadji muda ketika bersekolah pada HIS di Saparua saat itu menetap dirumah ibundanya (rumah raja siri sori islam) kemudian melanjutkan ke MULO di kota ambon melihat teman – teman sekolahnya dari bangsa belanda pun tionghoa selalu diistimewakan oleh kompeni ketimbang rakyat pribumi menimbulkan kedengkian yang mendalam kepada A.M.Sangadji oleh karenanya kegaduhan – demi kegaduhan selalu dilakukan A.M.Sangadji di dalam kelas sebagai bentuk protes kepada guru – guru bangsa Belanda. Jago toea ini tidak lagi melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi tetapi langsung bekerja menjadi griffer landrad pada kantor pengadilan Belanda di Saparua dan Kota ambon setelah beberapa tahun menjadi pegawai pemerintah hindia Belanda beliau hijrah ke tanah jawa khususnya di Surabaya dan melepaskan tugasnya sebagai griffer landraad memilih bergabung, berjuang bergerak, bersama Jang oetama H.O.S.Tjokroaminoto, Haji Agus Salim di dalam perhimpunan syarikat Islam di tahun 1922

nanti di tahun 1930 A.M.Sangadji terpilih dalam kongres syarikat Islam sebagai Presiden Ladjnah Tanfidziah Syarikat Islam sebuah jabatan politik prestisius yang tak pernah dibayangkan sebelumnya apalagi saat itu syarikat Islam memilki jutaan pengikut yang tersebar di seantero wilayah Indonesia tentu kepercayaan ini bukan semata -mata karena kedekatan emosional dengan H.O.S.Tjokroaminoto namun karena memang integritas dan ketokohannya yang mampu memposisikan dirinya hingga memegang jabatan tertinggi partai politik syarikat Islam Indonesia tidaklah berlebihan jika kombinasi ketiga tokoh pemikir kebangsaan yang luar biasa ini dikenal dengan trio SI (tjokro, salim, sangadji) agitasi, propaganda, menuju kemerdekaan pun juga kemiripan berpidato yang mampu membius jutaan rakyat Indonesia ini menjadi trade mark ketiga tokoh kaliber nasional Indonesia ini.

Tahun 1927 bersama H.O.S.Tjokroaminoto dan Agus Salim. A.M.Sangadji aktif dalam gerakan kepanduan Indonesia saat itu syarikat Islam memiliki organisasi pandu yang dinamakan S.I.A.P. (syarikat islam afdeling pandu) di tahun yang sama ini pula A.M.Sangadji tidak pernah lupa akan daerahnya sendiri beliau turut aktif dalam syarikat ambon yang didirikan oleh Alexander Yacob Patty di semarang, kemudian puncaknya A.M.Sangadji menjadi peserta utama kongres sumpah pemuda 1928 di jakarta bersama -sama Dr.Johannis Leimena selaku panitia kongres keduanya adalah representasi Jong Ambon.

 

Roeslan Abdulgani seorang tokoh penting dalam KAA asia – afrika di Bandung tahun 1955 yang juga sempat terlibat dalam pertempuran 10 november 1945 pernah berkata dalam isi ceramahnya dalam acara kuliah memorial UKIM (Universitas Kristen Indonesia Maluku) Dr. J. Leimena dan Mr. J. Latuharhary sebagai Pahlawan nasional (30 agustus 1995) beliau mengatakan bahwa ‘Saya dengan orang Maluku baik Leimena maupun Sangadji tak asing dalam hubungan pertemanan sejak masa – masa pergerakan baik sebelum bahkan sesudah kemerdekaan tahun 1945 itu. kami aktif bersama dalam gerakan – gerakan menuju kemerdekaan, dan di tahun 1947 kami bertiga sempat duduk dalam pemerintahan kabinet Republik Indonesia ke -6 (11 november 1947 -29 januari 1948 ) yang waktu itu dikenal sebagai kabinet Amir Syarifudin yang berasal dari partai sosialis menjadi perdana menteri, dr. J. Leimena dari Parkindo menjadi menteri kesehatan, sementara A.M.Sangadji menjadi sekretaris menteri kehakiman saat itu menteri muda kehakiman Mr. Kasman Singodimedjo dari partai Masyumi sedangkan menteri kehakiman dijabat oleh Mr. Susanto Tirtoprodjo dari PNI. karena suasana republik saat itu tidak menentu sehingga usia kabinet ke -6 ini hanya bekerja kurang lebih dua bulan saja. kabinet ini diganti lagi dengan kabinet Republik Indonesia ke -7 pada tanggal 29 januari 1948 – 4 agustus 1949 dengan perdana menterinya Mohammad Hatta. ketika itu saya (baca : Roeslan Abdulgani) tetap menjadi sekretaris menteri penerangan, menteri penerangan dijabat M.Natsir,A.M.Sangadji menjadi penasehat pada kementerian pertahanan dengan menterinya Sri Sultan hamengkubuwono ke -9, sedangkan dr.J.Leimena tetap menjadi menteri kesehatan. namun A.M.Sangadji lalu meninggal dunia karena ditembak pada bulan mei 1949. Jadi saya dengan tokoh orang Maluku sudah saling mengenal.

 

H. Oemar Dachlan yang dikenal sebagai wartawan suara borneo sekaligus sekretaris pribadi A.M.Sangadji ketika di Kalimantan Timur pernah menulis dalam Majalah Suara Muhammadiyah terbitan tahun 1984

‘Di Yogya, ternyata tenaga dan pikiran A.M.Sangadji diperlukan oleh Pemerintah RI. antara lain turut didudukannya beliau sebagai Penasihat Delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di atas kapal ” Renville” pada akhir tahun 1947, semasa kabinet Amir Syarifudin.

 

Penting untuk digarisbawahi juga bahwa A.M.Sangadji pernah menghadiri peringatan 40 tahun Kebangunan Nasional (Hari Kebangkitan Nasional) 20 mei 1948 bersama – sama dengan Dr. Radjiman Widyodiningrat, Ketua BP. KNIP Mr. Asaat dan Ki Hajar Dewantara.

Sebelum saya mengakhiri tulisan yang sederhana namun sarat akan nilai filosofis kejuangan seorang tokoh pergerakan perintis kemerdekaan Republik Indonesia yang tak banyak disebut dalam literasi -literasi keindonesiaan oleh para sejarawan senior dan sejarawan muda yang concern terhadap sejarah peradaban bangsanya melalui tulisan ini kami mendoakan semoga ketokohan seorang jago toea A.M.Sangadji perintis Indonesia merdeka dapat dijadikan wacana Nasional kesejarahan dan barangkali bisa menggugah hati nurani untuk menelaah kembali akan kiprah dan perjuangan beliau di masa pra kemerdekaan hingga Indonesia Merdeka

Semoga pula hal ini menjadi message moral bagi penulis, keluarga besar A.M.Sangadji, Ahli Waris, Akademisi, Anak Muda Millenial, Pemerintah Daerah Maluku, Pemerintah Pusat untuk lebih meningkatkan empati (kepekaan sosial) kepada mereka yang telah berjasa kepada Ummat, Bangsa dan Negara

 

Lebih baik berjuang untuk Indonesia Merdeka daripada menjadi Raja (A.M.Sangadji)

Billahi Fi Sabilil Haq…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *