Prawita GENPPARI, Pesona Curug Telu Bojongsari – Culamega Tasikmalaya

Prawita GENPPARI, Pesona Curug Telu Bojongsari – Culamega Tasikmalaya

 

Tasikmalaya | Jurnalexpress.com- “ Konsep kunjungan Prawita GENPPARI ke berbagai daerah atau desa, pada dasarnya untuk memenuhi undangan pemerintah daerah setempat baik dari Kadis pariwisatanya atau kepala desanya. Bisa juga dari tokoh masyarakat atau pegiat wisata di daerah tersebut. Oleh karena itu, kunjungan organisasi Pegiat Ragam Wisata Nusantara (Prawita) ini tentu bukan sekedar kunjungan wisata biasa, karena sebelum atau setelahnya harus memberi masukan dan evaluasi terkait dengan tata kelola potensi wisata yang ada di masing – masing daerahnya “, demikian diungkapkan oleh Ketua Umum DPP Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi di Bojongsari Culamega, Sabtu (13/2).

Selanjutnya Dede juga menyampaikan bahwa berbicara dunia kepariwisataan sesungguhnya banyak aspek terkait yang harus dipahami, apalagi ketika ingin mengarah ke arah terwujudnya desa wisata. Kepala desa selaku pimpinan daerah di desanya harus mampu menciptakan harmoni irama kebersamaan dan kesepahaman dengan seluruh tokoh dan masyarakatnya. Satu sama lain perlu saling mendukung, karena memajukan kepariwisataan di daerah sama dengan ikhtiar untuk menggerakan roda ekonomi masyarakat ke arah terwujudnya peningkatan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Dan tentu Prawita GENPPARI bersyukur serta berterima kasih atas kekompakan pak Kades Bojongsari dengan seluruh tokoh masyarakatnya. Artinya modal dasar pengembangan kepariwisataan sudah dimiliki. Ujar Dede.

 

Dalam diskusi Tim Prawita GENPPARI pusat yang didampingi Ketua DPD Prawita GENPPARI kabupaten Tasikmalaya dengan Kepala Desa, Seluruh Aparatur Desa, MUI dan tokoh masyarakat yang berlangsung di kampung Curug Telu merupakan pertemuan perdana untuk menyamakan persepsi antar seluruh tokoh. Pertemuan berlangsung dengan sangat cair dan dialogis. Hal tersebut tercermin pada sesi tanya jawab yang berlangsung aktif.

 

Menurut Tim Prawita GENPPARI, desa Bojongsari ini memang sangat indah dan memiliki potensi wisata yang luar biasa. Terasering sawah yang indah, hutan yang masih perawan, curug – curug nan mempesona, goa alam yang menantang serta aneka pesona lainnya. Apalagi ketika berbicara tentang curug telu yang artinya ada 3 curug yang saling berdekatan, yaitu cugug Moksel, curug Ngebul dan curug Jurjumis. Sungguh pemandangannya sangat menakjubkan dengan jalan setapak yang menantang. Dibutuhkan kesiapan fisik dan mental tentunya. Apalagi area menuju lokasi cukup curam, meskipun jaraknya tidak terlalu jauh dari pemberhential akhir kendaraan.

 

Begitu memasuki area kawasan Bojongsari, mata kita akan dihibur oleh rimbunnya hutan jati yang masih sangat alami. Di samping itu kenyamanan melakukan perjalanan wisata pun akan terpuaskan juga oleh keramahan masyarakat yang terbuka dan sangat ramah. Hanya saja memang warung – warung jajanan di lokasi masih belum ada, sehingga kunjungan harus disertai dengan bekal makanan atau minuman yang cukup. Atau bisa saja kita memesan makanan kepada warga yang bersedia membantu menyiapkan makanan yang sederhana.

 

Ketiga lokasi air terjun yang lokasinya berdekatan ini sangat cocok untuk lokasi foto – foto. Keindahannya sulit untuk dilukiskan dengan kata – kata ke kanvas cerita. Oleh karena itu tidak heran jika setiap pengunjung yang datang pasti akan menghabiskan momen – momen keindahannya dengan berfoto ria. Namun demikian, asyiknya berfoto tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan. Jangan sampai terpeleset di batu, atau berhati – hati dalam memperhatikan cuaca terlebih di musim penghujan. Sebab bisanya tiba – tiba datang air bah jika di hulu sungau ada hujan yang lebat.

 

“ Saya berkeyakinan jika dikelola dan ditata dengan lebih baik lagi, maka potensi wisata curug telu ini akan booming. Bisa menjadi objek wisata favorit, apalagi pesona yang dimilikinya dilengkapi juga oleh pemandangan lainnya, seperti areal pesawahan, goa, hutan jati, dan lain – lain. Tinggal membangun kebersamaan dalam menjaga kebersihan di semua area dan pemukiman warga, termasuk pelatihan tour guide atau tata kelola homestay. Banyaknya pesona wisata yang dimiliki tidak mungkin dieksplor hanya dengan 1 hari, oleh karena itu persiapan masyarakat dalam mewujudkan homestay yang ramah, higienis dan dilengkapi sanitasi yang baik menjadi sangat penting “, pungkas Dede.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *