Prawita GENPPARI, Potensi Bencana Hidrometeorologi Saat Musim Penghujan

Dede Farhan Aulawi, saat meninjau lokasi wisata beberapa waktu lalu

Jakarta | Jurnalexpress.com,- Prawita GENPPARI, Potensi Bencana Hidrometeorologi Saat Musim Penghujan

 

“ Semangat memulihkan aktivitas kepariwisataan hendaknya tidak melupakan potensi bahaya di setiap spot dengan mempertimbangkan musim penghujan saat ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa sejak akhir Oktober 2020 hingga akhir Januari 2021 ini, hampir setiap hari sebagian besar wilayah Indonesia diguyur hujan. Bahkan di beberapa daerah hujan tersebut turun dengan intensitas yang cukup tinggi. Akibat curah hujan yang intens dan berdurasi lama, sejumlah wilayah diminta untuk mewaspadai bencana hidrometeorologi. Termasuk dampak yang mungkin ditimbulkan di daerah – daerah wisata “, ungkap Ketua Umum Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi di Bandung, Rabu (27/1).

 

Selanjutnya Dede juga menjelaskan terkait dengan potensi bencana hidrometeorologi tersebut. Bencana hidrometeorologi menurutnya merupakan bencana yang dampaknya dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim dengan berbagai parameternya. Beberapa paramater di antaranya adalah peningkatan curah hujan, penurunan curah hujan, suhu ekstrem, cuaca esktrem seperti hujan lebat yang disertai angin kencang serta kilat atau petir, dan lain sebagainya.

 

“ Sebenarnya bencana hidrometeorologi tidak hanya terjadi saat musim hujan saja, melainkan juga bisa terjadi di musim kemarau. Kekeringan juga masuk kategori bencana hidrometeorologi. Namun ketika kondisi Indonesia masuk periode musim hujan, maka kejadian bencana banjir dan longsor cenderung meningkat. Dengan demikian, maka Prawita GENPPARI akan selalu mengingatkan berbagai potensi bencana hidrometeologi tersebut seperti Kekeringan, Banjir, Tanah longsor, Angin kencang, Cuaca ekstrem, ataupun hujan lebat disertai angin kencang serta kilat atau petir. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan mampu meningkatkan awareness (kesadaran) akan potensi bencana di atas. Termasuk para pengelola objek wisata ataupun pengunjung objek wisata yang terkait “. Ujar Dede.

 

Kemudian ia juga mengatakan dengan merujuk pada informasi dari BMKG, bahwa puncak musim hujan 2020/2021 diprediksikan untuk sebagian besar wilayah akan terjadi pada bulan Januari–Februari 2021 dan diprediksi akan berlangsung hingga April 2021. Oleh karenanya tentu prinsip kewaspadaan harus ditingkatkan untuk daerah-daerah yang diprediksi akan mendapatkan akumulasi curah hujan dengan kriteria tinggi hingga sangat tinggi pada Januari – Februari 2021 ini. Dengan demikian diperlukan berbagai upaya pencegahan dan mitigasi demi menghindari dampak bencana tersebut, khususnya di tengah pandemi Covid-19.

 

Kemudian Dede juga menambahkan terkait dengan cara – cara mitigiasi bencana hidrometeorologi. Pertama adalah Mitigasi secara nomenklatur, yaitu rangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. Bentuknya melalui pembangunan fisik atau infrastruktur, ini interfensi maupun penyadaran masyarakat. Kedua, Edukasi (penyadartahuan) kepada masyarakat dalam bentuk edukasi tentang bencana hidrometeorologi dan peningkatan kemampuan mereka dalam menghadapi ancaman bencana. Penyadartahuan atau edukasi ini harus dilakukan mulai dari kelompok inti di dalam masyarakat, yaitu keluarga dengan belajar dari literatur atau video bagaimana memitigasi bencana hidrometeorologi. Selain itu, edukasi mitigasi bencana ini juga bisa dilakukan dan diajarkan melalui kurikulim di sekolah-sekolah. Ketiga, Aktivitas yang tidak merusak lingkungan dan mulai dari diri sendiri misalnya tidak membuang sampah sembarangan, menyimpan air di musim hujan, sediakansumur resapan, tidak menebang pohon atau mengeruk tanah terutama di wilayah lereng gunung atau perbukitan, dan sebagainya.

 

“ Dengan demikian, di masa saat ini yang memiliki resiko bencana hidrometeorologi di atas maka seluruh pengelola potensi wisata maupun para pengunjung harus selalu diingatkan agar selalu berhati – hati. Misalnya wisata pantai, wisata sungai, wisata air terjun, wisata goa, wisata gunung, dan sebagainya. Ingat selalu akan potensi luapan air, arus deras, tanah longsor dan seterusnya. Semangat membangkitkan kembali aktivitas kepariwisataan harus disertai dengan tanggung jawab untuk menjaga keselamatan bersama. Itulah sebabnya Safety dan Security Tourism menjadi salah satu topik hangat dewasa ini “, Pungkas Dede.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *