Prawita GENPPARI, Seni Fotografi Memajukan Pariwisata Indonesia

 

Jakarta | Jurnalexpress.com- “ Berbicara keragaman jenis dan jumlah potensi dan destinasi wisata di Indonesia sulit untuk dihitung secara pasti, karena di setiap sudut desa selalu tampak banyak potensi yang luar biasa tersebut. Persoalannya kemudian potensi – potensi wisata tersebut selama ini belum tereksplor dengan baik sehingga masih banyak masyarakat yang belum mengetahuinya. Baik itu masyarakat di dalam negeri sendiri maupun masyarakat luar negeri. Oleh karena itu, semuai ini menjadi tanggung jawab bersama untuk memajukan pariwisata Indonesia demi kejayaan bangsa dan negara. Beberapa titik lemah yang sudah teridentifikasi adalah keterbatasan para jurnalis kepariwisataan sehingga secara khusus Prawita GENPPARI menyelenggarakan pelatihan Travel Journalism dan diberikan secara gratis. Selanjutnya masih terkait dengan hal tersebut, tetapi agak spesifik yaitu seni fotografi yang merupakan instrumen untuk menampilkan gambar suatu objek secara jelas dan menarik. Sudut, pencahayaan dan waktu pengambilan gambar menjadi kriteria kunci untuk menghasilkan foto yang unik dan menarik “, ujar Ketua Umum Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi yang ditemui di Bandung, Rabu (20/1).

Secara terminologi, fotografi merupakan serapan dari bahasa Inggris “photography” yang berarti “photos” cahaya dan “grafo” melukis atau menulis (asal kata Yunani kuno). Jadi fotografi merupakan sebuah proses melukis dengan menggunakan media cahaya. Ada juga yang menjelaskan sebagai proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut pada media yang peka terhadap cahaya. Masalahnya dalam mempraktekan hal tersebut tidaklah semudah mendefinisikannya, karena di dalamnya terkandung nilai – nilai seni berbalut kreativitas. Fotografi sebagai media berekspresi dan komunikasi yang kuat menawarkan berbagai persepsi, interpretasi, dan eksekusi yang tak terbatas.

Selanjutnya Dede juga menambahkan terkait dengan prinsip dari fotografi, yaitu memfokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghasilkan bayangan yang identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (lensa). Selain memahami teori dasar teknik fotografi, tentu perlu juga melatih insting agar tahu titik tepat kapan gambar harus diambil. Ujar Dede.

Jika meninjau seni Fotografi dalam pendekatan historis, mungkin bisa mengingat kembali bagaimana seorang pria yang bernama Moti mengamati suatu gejala yang dinamakan fenomena camera obscura. Kemudian di abad ke-10 SM seorang ilmuan Arab bernama Ibnu Haitam (Al Hazen) berusaha untuk menangkap fenomena ini ke dalam suatu alat. Kemudian pada tahun 1558, Giambattista Della Porta yakni seorang ilmuwan asal Italia menyebut “camera obscura” pada sebuah kotak yang berfungsi untuk membantu pelukis menangkap bayangan gambar. Lalu Joseph-Nichephore Niecpe (1765-1833) seorang seniman lithography asal Perancis berhasil melahirkan sebuah gambar melalui proses meng-exposed pemandangan dari jendela kamarnya, melalui proses yang disebutnya Heliogravure (proses kerjanya mirip lithograph). Sejak saat itu ia melanjutkan penelitiannya hingga pada tahun 1826 merupakan sejarah awal fotografi yang sebenarnya. Foto yang dihasilkan pada percobaan saat itu sampai saat ini masih ada dan disimpan dengan baik di University of Texas di Austin, Amerika Serikat.

Disamping itu, Dede juga menjelaskan bahwa untuk menghasilkan sebuah hasil karya yang bagus atau menarik ada beberapa faktor, faktor yang paling utama adalah faktor pencahayaan. Tanpa pencahayaan yang baik akan sulit untuk menghasilkan hasil karya yang bagus. Faktor kedua adalah sang fotografer-nya itu sendiri. Sang fotografer akan dituntut dan di uji seni atau kreatifitas-nya untuk menghasilkan subuah foto yang bagus atau menarik. Faktor yang ketiga adalah kamera, tanpa kamera proses fotografi pun tidak terjadi. Kamera adalah alat pokok pada kegiatan fotografi. Faktor yang terakhir adalah faktor pendukung seperti lensa cadangan, alat bantu cahaya ( lampu flash kamera), reflektor, tripod, dan lain-lainnya. Tidak perlu menggunakan kamera yang mahal untuk menciptakan sebuah karya seni fotografi. Ujarnya.

“ Jadi fotografi itu merupakan kegiatan seni. Untuk itu dibutuhkan seorang fotografer yang betul -betul mengerti seni dan jenis fotografi. Tetaplah semangat belajar fotografi dan tingkatkan kualitas fotografi Indonesia guna menunjang promosi pariwisata Indonesia agar semakin maju dan jaya. Saya percaya dan yakin sepenuhnya bahwa masyarakat Indonesia itu adalah masyarakat yang kreatif. Tinggal dipoles dengan suatu pengetahuan dan keterampilan saja, lalu diberikan sarana dan prasarananya maka seni fotografi diyakini akan sangat menunjang promosi pariwisata Indonesia yang unik dan menarik. Jadilah fotografer – fotografer handal yang mampu mengangkat dan mengharumkan setiap sudut keindahan panorama Indonesia “, pungkas Dede penuh harap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *