DPP GM KOSGORO mengutuk video YouTube yang memparodikan lagu kebangsaan Indonesia Raya

 

Ketua umum DPP Generasi Muda KOSGORO, Baroto Isman

Jakarta | Jurnalexpress.com,- Hari ini kita sedang di kagetkan dengan adanya video YouTube yang memparodikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Di sinyalir pelaku yang mengupload video adalah warga Malaysia. Tidak tahu dengan maksud apa tetapi kita ketahui hubungan Indonesia – Malaysia memang selalu di penuhi dengan riak2. Mengapa ini bisa terjadi ? Sentimen Indonesia – Malaysia di awali dengan semangat kemerdekaan bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang di raih dengan darah dan air mata demi self-governed nation yang tidak lepas dengan begitu mudah.

 

Semangat kemerdekaan yang begitu muda baru 19 tahun lamanya dan saat itu negara juga sedang mengalami hiperinflasi yang hebat, saat itu bangsa Indonesia saya pikir sedang mengalami krisis dan kemelut politik yang dalam. Bung Karno yang memiliki karisma luar biasa mampu menggetarkan rakyat yang sedang mengalami krisis tersebut dengan ingin menaklukkan negara Malaysia! Suatu gagasan luar biasa, kenapa tidak ?

 

Walaupun operasi Dwikora tidak secemerlang operasi Trikora, kalau kita berandai-andai jikalau saat itu operasi Dwikora berhasil maka Indonesia memiliki jumlah rumpun Austronesia terbesar di dunia. Karena dasar itulah mitos dari kebesaran kerajaan Majapahit atau kerajaan Sriwijaya selalu menjadi landasan pembentukan manusia Indonesia merdeka. Indonesia adalah sebuah hasil proses perpaduan lintas budaya pra kolonialisme yang telah mengalir di dalam raga manusia nya.

 

Karena itu Bung Karno sangat menolak sekali pembentukan negara Malaysia yang dianggap kreasi dari kolonialisme itu sendiri dari Inggris yang hampa dan tidak memiliki akar budaya atau Bung Karno sekedar mau mengalihkan isu2 nasional yang sedang carut marut dengan pertentangan ideologi yang hebat dan ekonomi yang hancur ? Dwikora hanya keinginan utopis dari karisma Bung Karno yang luar biasa saat itu.

 

Tidak lah heran hubungan naik turun Indonesia – Malaysia masih terus sampai generasi hari ini. Walaupun Dwikora 56 tahun yang lalu masyarakat selalu mengkomparasi keunggulan masing2 negara dan terkadang bergesakan ke hal2 yang sensitif seperti parodi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Saya pun tidak terima bila simbol2 negara saya di cemooh dengan negara lain apalagi dengan negeri Jiran. Anggapan yang lahir dari perspektif Indonesia adalah karena sampai saat ini kita masih hidup di jaman utopia Dwikora yang gagal. Semangat itulah yang saya pikir tidak boleh sirna bukan karena ingin permusuhannya, tetapi dengan gesekan seperti ini sepertinya selalu mempersatukan fregmentasi arah politik yang terjadi di Indonesia.

 

Mungkin kita harus berterima kasih kepada warga Malaysia yang mengupload itu karena tanpa gesekan dari luar itu kita akan selalu terfragmentasi pada perbedaan2 internal yang hari ini sedang dalam. Permusuhan antar sesama anak bangsa yang sedang tinggi keegoisan nya dengan keyakinan nya terkadang tidak lagi peduli dengan mereka yang berbeda pandangan atau bahkan keyakinan. Masyarakat yang dengan mudah nya melupakan persatuan dengan saling membenci atau bahkan menghujat. Perlukah kita memiliki karisma pemimpin yang utopis seperti Bung Karno ? Seberat hiperinflasi apapun rakyat tetap mencintai pemimpin nya. Tetapi tidak lama hanya selang setahun Bung Karno harus lengser dari kursi kepemimpinan diganti dengan Orde Baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *