PERCAYA PRESIDEN JOKOWI SESUAI DENGAN PERPRES NO 86/2018 TENTANG REFORMA AGRARIA RAKYAT SIMOJAYAN BUTUH SERTIFIKAT UNTUK KEPEMILIKAN YANG SAH

Malang,Jurnalexpress.com-Rakyat Simojayan butuh Sertifikat Untuk Kepemilikan Yang Syah,Desa Simojayan, berada di Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Dengan luas 8 km², dan jumlah penduduk 5.027 jiwa.

Harapan Eko Susianto, dari analisa dan perbincangan-perbincangan pada saat ia magang sebagai jogoboyo keliling desa, anggota Reclasseering Indonesia (RI) dan media Fakta.

Eko berbincang dengan para sesepuh dan tokoh pemuda desa Simojayan, saat pemuda dan sesepuh itu menanyakan gimana kira-kira masalah tanah perbonding itu bisa disertifikatkan atau tidak, apalagi ungkap dia yang tidak mau disebut namanya dari sesepuh tersebut “Opo maneh koen iki ketok e wonge Jokowi, opo maneh kowe jare yo ndek Lembaga RI (Reclasseering Indonesia), secara tidak langsung kan yo krungu tentang tanah HGU iki, opo maneh kowe duwe jiwa sing iso dijak koordinasi mbantu keluh kesah e masyarakat masalah e kowe sik enom,” jawab e si Eko, “Ono-ono ae mbah, aku wong ndeso akeh keterbatasan dalam bidang opo ae, cuma aku ndek lembaga karo media kuwi iso lah ndudui coro sing prosedur lewat penyampaian publik lewat media ku nawacita, yo perlu koordinasi karo sesepuh Deso sak Simojayan, karena sengketa iki skala e nasional perlu proses karo waktu, tapi aku yakin Presiden Jokowi slalu komitmen mengedepankan rakyat, walaupun di sisi lain ono pro kontra, wajar ae, sesuai karo program e Pak Jokowi karo ucapan e Pak Jokowi sing tertuang neng Perpres Undang-Undang sing berlaku mbah, Presiden mengutamakan dan mengedepankan ekonomi rakyat cilik, karena de’e yo teko rakyat cilik, ikupun wes terbukti ndek daerah-daerah liyo, yo ayo bareng2 ora iso lek dewe, perlu koordinasi libatkan tokoh sesepuh pinisepuh, tokoh perjuangan desa sing utama, perangkat desa sing utama, deso yo ono bapak e masio arek cilik yo teges, cak holili iku, sing perlu yo ngene mbah, saranku, ojo duwe roso su’udon sing kebenarane ora jelas, sing nggarai tukar padu karena menurut analisaku mbah, jamane mbah siti yo berjuang mati-matian mesti kanggo masyarakate, cuma dengan dalane de’e dewe iku juga perlu diacungi jempol kan diuri-uri, kuwi yo pejuang kemerdekaan kuwi yo pejuang rakyat, pak suja’i lurah yo berjuang, yo mberjuangno rakyat e, terus jamane mbah bunasar, pak godek, lan tokoh-tokoh lawas biyen mbah, sing aku cuma ngerti crito sampe bapak e mat (Lurah imam) kuwi malah perlu disanjung terkait perjuangane nang rakyat iki sing mati-matian karo makmurno rakyat e dibantu karo tokoh-tokoh perjuangan, koyo pak warji koyo gatot koyo cak giono koyo abah jumali, sampek pak lurah dolah, kabeh berjuang dan perlu dihargai sing perjuangane ora kenek diukur karo materi sing sak luas-luase, buktine sampek saiki rakyat ngrasakne, karepku ayo podo rukun ojo nyalahne ben tinuju perjuangane, leluhur sesepuh pinisepuh kuwi dadi sak temene kabeh podo ngrasakne sing roto sing cukup. Deso iki desone dewe mbah, tentrem ayem lan aman e yo teko awak e dewe sing iso njogo, pemerintah sebagai wakil e awak e dewe (desa) kita dukung sepenuhnya dengan penyampaian kebijakan program lan sak liyo liyane sing sayuk rukun iku tujuane, aku ngomong iki aku ngugemi jowo, masio aku ora apik-apik e uwong, cuma aku pengen belajar ngelongi karena batasku eling karo lali. Ngene mbah, ayo nggawe acara ndungakne sesepuh kabeh sing wes berjuang mulai sak durunge ono e deso sampe saiki nang sak kabeh leluhur nggawe haul khusus nguri-nguri lan ndungakne anane kedadean deso simojayan kuwi sing wes merjuangne termasuk almarhum-almarhum e keluargane dewe lan ngedepanno silaturahmi, ngesampingno perbedaan sing berawal teko pro kontranya pilkades kuwi sing perlu dihapus mbah, demokrasi wajar, setuju mbah??”

Eko terpanggil dengan adanya program Jokowi itu untuk memakmurkan desanya, masalah tanah sengketa HGU, menurut Eko percaya bahwa Presiden Jokowi sesuai programnya memberikan sertifikat dengan proses-proses yang ada yang sesuai dengan peraturan hukum, memberikan sertifikat tersebut untuk menjadi milik masyarakat Simojayan seutuhnya, tapi dengan metode pembagian yang rata.

Eko pun juga salut dengan perjuangan para sesepuh Simojayan, Lurah-Lurah lama, mbah Siti, Mbah Bunasar, tokoh ulama terdahulu, yang senantiasa memperjuangkan hak rakyat Simojayan dengan sepenuh hati, walau pada saat itu tidak paham tentang hukum, tapi dalam jiwa mereka bersama masyarakat dengan gigihnya berani menanggung suatu resiko hukum. Hingga lurah Simojayan, Pak Ja’i bersama tokoh masyarakat masih tetap gigih memperjuangkan hak tanah rakyat tersebut, hingga tahun 1999 adalah reformasi suatu gejolak masyarakat, dalam penyampaian Gus Dur mengatakan bahwa tanah tersebut untuk memperbaiki keadaan ekonomi masyarakat.

Sewaktu menjabat sebagai presiden, Gus Dur membuat sebuah pernyataan yang begitu kontroversial. Beliau dengan enteng mengatakan bawa 40 persen tanah-tanah perkebunan dahulunya mencuri tanah-tanah rakyat. Menurut beliau, sebaiknya sebagian tanahnya dibagikan kepada rakyat.

Pemerintah menepati janjinya untuk melaksanakan agenda Reforma Agraria dengan mengundangkan Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria (Perpres Reforma Agraria). Perpres tersebut merupakan komitmen pemerintah untuk melakukan penataan aset dan akses agraria yang telah
diamanatkan dalam TAP MPR NO. IX/MPR/2001 dan Undang-Undang Pokok Agraria. Melalui analisis terhadap urgensi dan pengaturan Reforma Agraria dalam Reforma Agraria dapat disimpulkan bahwa Reforma Agraria dibutuhkan untuk menata kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah, serta penanganan sengketa dan konflik agraria sebagai instrumen untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Namun, substansi Perpres Reforma Agraria lebih menekankan pada aspek penataan aset dan akses pertanahan dengan melakukan reditribusi tanah, legalisasi tanah, dan pemberdayaan masyarakat dibandingkan
aspek penanganan sengketa dan konflik agraria sebagai sumber ketimpangan kepemilikan tanah. DPR RI perlu mengawal pelaksanaan Reforma Agraria agar sesuai dengan tujuannya.

Program Tanah Obyek Reforma Agraria (Tora) adalah satu dari tiga program unggulan Presiden Joko Widodo. Satu program yang sering viral di media daring dan media sosial adalah pendaftaran tanah sistimatis lengkap (PTSL) yang output-nya adalah penerbitan sertifikat tanah untuk rakyat secara cepat, murah, dan transparan.

“Reforma Agraria” (RA) atau “Agrarian Reform” adalah suatu penataan kembali (penataan ulang) susunan pemilikan, penguasaan, dan penggunaan sumber-sumber agraria (terutama tanah), untuk kepentingan rakyat kecil (petani, buruh tani, tunawisma, dan lain-lainnya), secara menyeluruh dan komperhensif (lengkap).

Eko mohon untuk suara hati rakyat simojayan itu dikedepankan untuk masalah tanah HGU sesuai dengan Perpres no 86 tahun 2018. Jika ada kunjungan Presiden ke Jawa Timur, saya mohon lahan di simojayan dikunjungi juga dan bisa kontak langsung dengan keluh kesah masyarakat desa simojayan dan memenuhi keinginan warga desa simojayan tersebut.

Tim Presidium Pusat Reclasseering Indonesia Pak Ahmad Lulang, SH dan Pak Dahlan Lulang, SH serta Tim advokasi hukum Reclasseering Indonesia untuk bantu penanganan masalah ini.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *