Cucu Pahlawan Nasional : Persahabatan itu bagai kepompong

Surabaya | Jurnalexpress.com,- Yayasan Rumah Peneleh merupakan gerakan yang didedikasikan bagi penggodok ide dan upaya -upaya perubahan sosial kebudayaan menuju peradaban nusantara yang berketuhanan, adil, makmur dan sejahtera. Organisasi ini merujuk secara historis pada rumah HOS Tjokroaminoto, Raja Jawa tanpa mahkota, tokoh sentral Syarikat Islam (SI), di jalan Peneleh, Surabaya.

 

Di rumah tersebut berkumpul anak -anak muda dan tokoh -tokoh pergerakan, yang berdialektika dalam dialog keislaman dan Kebangsaan dengan visi memerdekakan nusantara dari penjajahan dunia, mereka diantaranya : Haji Agus Salim, Abdoel Moeis, K. H. Wahab Chasbullah, K. H. Ahmad Dahlan, K. H. Mas Mansoer, A. M. Sangadji, Abikoesno Tjokrosoejoso, Soerjopranoto, Soekarno, Tan Malaka, SM. Kartosoewirjo, Buya Hamka, Semaoen, Alimin, Dll.

 

Direncanakan dalam waktu dekat, inshaa allah akan dihelat diskusi Kebangsaan : ( Persahabatan H.O.S. Tjokroaminoto dan A.M. Sangadji )

 

Gagasan konstruktif diskusi gerakan joeang kedua tokoh bangsa kharismatik diinisiasi oleh sahabat- sahabat aktifis muda peneleh dalam rangka DIKSARNAS AKTIFIS PENELEH, di Blitar.

 

Adapun acara Diskusi Kebangsaan Duo Sahabat karib ini direncanakan pematerinya, Aulia Takhim Cokroaminoto ( cicit Jang Oetama HOS Tjokroaminoto) dan M Kamil Mony (cicit Jago Toea AM Sangadji)

 

Hendra Jaya, aktifis muda peneleh ( pengader dan koordinator rumah kader jang oetama), mengatakan bahwa duo tokoh pemimpin teras syarikat islam ini meski berbeda suku ( jawa dan maluku) namun mereka dipersatukan dalam satu identitas nasionalisme islam, satu gerakan juang dan cita -cita luhur memerdekakan bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajah, hal ini harus menjadi parameter bagi generasi muda pewaris peradaban agar senantiasa bersama mengaktualisasikan ide dan pemikiran para pendahulu bangsa khususnya HOS Tjokro dan AM Sangadji dalam merintis kemerdekaan bangsa Indonesia melalui semangat Zelfbestuur

Diskusi ini juga bagian dari semangat teman – teman muda aktifis muda peneleh yang ingin berkontribusi untuk ummat dan bangsa sebagai kawah candradimuka kepada generasi muda agar senantiasa memahami, memaknai sejarah perjuangan bangsa, sebagai wujud nasionalisme orang muda Indonesia yang menolak gagasan dan pemikiran asing yang akan menghilangkan sikap kritis, nilai -nilai historis di dalam ruang kebangsaan.

 

Urgenisitas anak muda Indonesia dalam mempelajari kembali sejarah masa lampau sebagai kekuatan semangat, integritas dan komitmen, melanjutkan khittah perjuangan founding fathers republik berasaskan ideologi pancasila yang dibangun dengan darah air mata bukan semata memahami budaya dan kecanggihan teknologi bangsa lain.

 

Percayalah pada kekuatan sendiri tak ada kemenangan tanpa perlawanan (soeloeh hoekoem 1932)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *