12 Desember 2020, Peringatan Hari Pencak Silat Nasional Pertama

Ketua Umum Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi bersama keluarga besar Genppari

Jakarta | Jurnalexpress.com,- “ Barangkali banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa tanggal 12 Desember sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage, alias warisan budaya dunia tak benda. Hal ini tentu menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat Indonesia karena seni dan budayanya, yaitu seni bela diri Pencak Silat asal Indonesia tersebut mendapatkan pengakuan dan pengukuhan dari UNESCO. Hal ini tentu bukan sekedar membanggakan tapi juga merupakan suatu kehormatan bagi bangsa dan negara, dan kita sebagai bagian dari entitas masyarakat pencak silat tentu memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya “, Ujar Ketua Umum Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi di kediamannya diu Bandung, Rabu (2/12).

Ketua Umum Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi ( baju putih) disela sela diskusi

Hal tersebut ia ungkapkan terkait banyaknya tokoh pencak silat khususnya yang berada di Jawa Barat memintanya untuk membantu penyelenggaraan peringatan hari pencak silat nasional yang pertama. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa Prawita GENPPARI adalah organisasi tempat bernaungnya para pegiat pariwisata, seni dan budaya yang memiliki tujuan utama untuk memajukan pariwisata, seni dan budaya Indonesia sebagai sektor unggulan dalam rangka membantu Pemerintah dalam menggali potensi pendapatan negara, dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Terlebih di tengah situasi yang sulit di tengah pandemi covid 19 ini, maka sektor pariwisata, seni dan budaya diyakini bisa menjadi trigger untuk pemulihan ekonomi nasional. Namun situasi saat ini masih masa pandemi covid 19, maka penyelenggaraanya jangan terlalu besar untuk memastikan dipatuhinya protokol kesehatan sebagaimana ditetapkan Pemerintah. Begitupun waktunya cukup singkat saja, misalnya 1 – 2 jam cukup, setelah itu bisa segera pulang ke tempatnya masing – masing. Dan jangan lupa untuk mengingatkan semua yang mau hadir untuk menggunakan masker. Perguruan yang tidak hadir, mungkin cukup mengirimkan bendera perguruannya masing – masing agar bisa berkibar di hari pencak silat miliki kita bersama ini. Jadi yang hadir cukup sedikit saja, tapi benderanya harus meriah. Ini semata – mata untuk menghindari kemungkinan terjadinya cluster baru penyebaran covid 19. Ungkap Dede.

 

Kemudian Dede juga mengatakan bahwa apa yang sudah diraih dengan lahirnya pengakuan UNESCO tersebut tentu bukan perjuangan yang mudah, melainkan sebuah rangkaian panjang kerja keras dari para tokoh pencak silat nasional baik yang tergabung di IPSI, PPSI ataupun yang lainnya. Oleh karenanya sudah selayaknya kita semua menyampaikan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada semua pihak yang telah berjasa sehingga pengakuan internasional itu lahir.

 

Selanjutnya Dede juga kembali menegaskan bahwa ada dilema peringatan saat ini, di satu sisi tentu peringatan ini ingin semeriah mungkin karena merupakan peringatan yang pertama. Di sisi lain, saat ini masih masa pandemi covid 19 sehingga pelaksanaannya tentu harus benar – benar mentaati protokol kesehatan sebagaimana ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan demikian, mungkin bisa diambil jalan tengah yaitu peringatan tetap dilaksanakan namun tidak terlalu menimbulkan kerumunan masa, artinya dilakukan oleh jumlah yang terbatas. Meskipun demikian, semoga tidak mengurangi rasa syukur kita atas semua ini. Semoga di lain waktu, jika saatnya sudah memungkinkan peringatan bisa dilakukan lebih besar dan lebih meriah lagi.

 

Tema peringatan yang diusung untuk tahun ini adalah “Bersama Lestarikan Pencak Silat, Kokohkan Persatuan Bangsa”. Semoga kebersamaan selama ini dalam melestarikan dan mengembangkan seni beladiri Pencak Silat dapat meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa, karena persatuan dan kesatuan merupakan modal utama dalam menjaga keutuhan NKRI. Untuk itulah tugas besar untuk melestarikan, mengembangkan dan menjaga warisan budaya bangsa ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Di samping itu, pencak silat juga bisa menjadi instrumen untuk menguatkan Indonesia di tengah kancah diplomasi internasional. In Sya Alloh, berbagai paguron atau perguruan pencak silat di tanah air akan mendukung cita – cita yang mulia ini demi kejayaan bangsa.

 

Pencak Silat merupakan buah karya para leluhur bangsa yang digali dari kearifan lokal. Budaya bangsa yang lahir dan terus berkembang secara turun temurun ini, kini semakin berkembang ke berbagai belahan dunia. Hal ini otomatis akan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Bahkan kalau kita lihat selama ini, dari berbagai kejuaraan olahraga beladiri yang di pertandingkan di tingkat dunia, para pendekar atau atlet pesilat Indonesia selalu menjadi pemenang dan juara umum pada semua tingkatan. Itulah sebabnya warisan budaya bangsa ini harus benar – benar dijaga kelestariannya. Untuk itulah Prawita GENPPARI akan terus bekerjasama dengan para sesepuh Pencak Silat di tanah air untuk terus mengembangkan dan melestarikannya “, pungkas Dede mengakhiri perbincangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *