Ketum DPP GM KOSGORO : “Dont judge a book by a cover”

 

 

Ketua umum DPP Generasi Muda KOSGORO, Baroto Isman diselah acara dengan SAR SENA

Jakarta | Jurnalexpress.com,- Ketua Umum DPP Generasi Muda KOSGORO, Baroto Isman dalam sebuah wawancara dengan media ini mengungkapkan bahwa Sebuah gerakan membaca buku adalah selalu gerakan yang dinamis bagi masyarakat. Bila gerakan ini merangsang masyarakat untuk membaca buku artinya telah membuka mata masyarakat untuk menjadi lebih cerdas, lebih teliti dan lebih peka terhadap perkembangan yang terjadi di lingkungan nya. Dengan menjadikan buku adalah teman hidup maka si pembaca akan mempunyai pilihan dalam menjalankan roda kehidupan. Penilaian mereka akan lebih luas, wawasan mereka membuka kesempatan yang belum pernah di ketahui sebelumnya. Baroto melanjutkan,

Berbeda terbalik mereka yang tidak ingin membaca dan hidup monoton yang hanya meyakini dengan satu sumber saja. Mereka ini adalah anti kritis baik terhadap diri nya atau terhadap lingkungan nya. Mempercayai satu sumber tanpa memahami korelasi informasi itu dari sumber2 pembanding lainnya akan menjadikan kita manusia yang radikal, egois dan membenarkan sesuatu yang mungkin ada jawaban lain dari pendapat tersebut. Karena kita pahami dunia ini berdiri bukan dari satu pandangan perspektif saja tapi hasil dari kolaborasi pemikiran yang inklusif dari berbagai macam latar belakang dan perkembangan peradaban manusia produktif.

Oleh karena itu bangsa ini meyakini menjadi produktif melalui demokrasi konstitusi yang meyakini hukum adalah alat tertinggi yang disepakati bersama. Kita serahkan suara kita dalam setiap pemilihan karena kita yakin dengan pilihan kita suara kita menjadi terwakilkan. Suara itu termaktub dalam UUD 1945 adalah yang mewakilkan jati diri kita dalam berbuat dan bertindak sebagai warga negara Indonesia.

Begitu juga DPR melegalisasi Undang-Undang atas dasar Naskah Akademis dimana keterlibatan masyarakat dari berbagai profesi masyarakat ikut hadir. Dimana profesi itu di dapat ? Berawal dari keinginan berpendidikan, berpendidikan mengawali dengan membaca buku-buku spesialis. Itulah yang menjadikan Naskah Akademis Undang-Undang karena faktor profesi spesialis dari tokoh2 yang diundang dan di legislasi kan di DPR. DPR mewakilkan aspirasi masyarakat bahkan inspirasi masyarakat agar tetap pada rel konstitusi lewat UU yang di legislasikan.

Siapapun yang menyarankan atau menggerakkan untuk membaca buku pasti saya dukung! Karena sebagai kader KOSGORO pun kita sudah dididik di dalam buku kecil Pedoman Perjoangan KOSGORO sebanyak 42 halaman adalah jati diri kita sebagai kader KOSGORO. Tanpa kehadiran buku itu maka KOSGORO tidak memiliki visi, misi dan objektif kedepan. Segala permasalahan bangsa dan negara yang terjadi, apakah itu gerakan2 yang diteriakan terus menerus oleh seseorang akan kita counter dengan buku kecil itu. Apakah sepaham ? Apakah bisa kolaborasi ? Atau kita tidak sejalan ? Kita akan terus benturkan dengan buku kecil itu. Akhir kata-kata yang ditulis pada kesimpulannya pendiri KOSGORO meminta agar kita memiliki “tepo seliro” ata “ojo dumeh” sebagai manusia. Pungkas Baroto mengakhiri pembicaraan.(red)

 

Dont judge a book by a cover. Fenomena baca buku ini hendaknya jangan hanya di lihat cover nya saja, tetapi selami isi bukunya, nikmati objektifnya, pahami kemana arah dari buku ini untuk kehidupan kita yang dinamis. Pertemuan dengan tokoh2 yang memiliki perspektif hendaknya di dasari oleh keyakinan bahwa saya ingin mengimprovisasi kehidupan menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Banyak buku juga dari pandangan orang atau organisasi yang keliru yang termakan oleh kharismatik semata berakibat ratusan bahkan jutaan manusia saling berbunuhan. Kandungan isi buku tersebut dari merubah perspektif pembaca bahkan meragukan kehidupannya. Oleh karena itu Gerakan membaca buku ini mesti memiliki pembimbing yang kritis agar kita tidak terjebak dalam situasi monoton. Menjadi awal yang baik untuk selalu membedah makna buku agar bukan menjadikan kita manusia sampul buku saja. Berbagi kebaikan dengan manusia di awali dengan kebaikan yang termakna dalam ilmu pengetahuan dan ilmu agama yang saling berkolaborasi dan berkonstruksi satu sama lain untuk membangun peradaban manusia.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *