MAULID AJARKAN UNTUK PERBANYAK SHOLAWAT

Penulis : Wachyuni, M.Pd

(Penyuluh Agama Islam Kecamatan Beji)

Hari kelahiran nabi yang lebih sering disebut sebagai Maulid Nabi melahirkan budaya tersendiri di setiap desa, daerah, bahkan negara. Nusantara ini juga memiliki beragam tradisi serta cara dalam memberikan ekspresi cinta terhadap junjungan mulia nabi akhiruzzaman. Semua merasa gembira dalam peringatan kelahirannya, aneka makanan, hidangan, buah-buahan, semua dihidangkan agar tiap manusia merasa bahagia dalam peringatan maulid nabi, siapa yang tidak bergembira menyambutnya. Bukan hanya sekedar itu, berbagai sholawat dilantunkan sangat indah menyambut kehadiran sang baginda kekasih sang penguasa.

Kepribadian nabi sangat begitu indah, alam semesta adalah cermin keindahan yang beliau miliki. Semua kata habis untuk memujinya, selaksa cinta yang bertebaran di setiap musim, di setiap sudut tempat, setiap untaian kata pujangga. Cinta nabi memancarkan cinta yang tidak berakhir, selalu tumbuh dan tidak padam. Begitupun dengan rasa rindu kepadanya, sama halnya dengan cinta yang tidak terkira.

Performen nabi juga merupakan kesempurnaan tersendiri, dari mulai kulitnya yang putih bersih serta bersinar, rambutnya yang hitam kelam serta memanjang, sorot matanya yang tajam, senyumnya yang menawan, keharumannya yang semerbak selalu ingat dalam pikiran. Semua yang ada dalam diri nabi adalah keindahan yang sempurna.

Sebagai ummat tentu menjadi keharusan bagi tiap muslim untuk meneladaninya. Akhlaqnya yang tiada tercela, belas kasihnya seluas jagad raya tak terbatas masa. Siapa yang tidak ingin mendapat syafaatnya?. Mulia akhlaqnya adalah sebuah rujukan yang harus dipegang erat oleh siapapun yang mengaku ummatnya. Namun seberapa besar ummatnya bisa meneladaninya, karena begitu sempurnanya yang beliau ajarkan. Jikalau bisa meneladani akhlaq nabi, pasti memiliki skala yang berbeda-beda pada tiap ummatnya. Skala yang terbesar tentu di miliki oleh para ulama sebagai pewarisnya, sedangkan yang lain pasti skala meneladani akhlaq nabi sangat berbeda, bahkan mungkin bisa jadi ada yang meneladani dengan skala cukup kecil.

Jika dalam meneladani adalah upaya yang tidak mudah, namun yang pasti tidak boleh ditingggalkan. Semua ummatnya wajib meneladani akhlaq nabi, kalau tidak bisa 50 persen, maka turukan lagi, jika tidak bisa maka turunkan lagi, yang terpenting tetap harus belajar serta berlatih meneladani. Akan tetapi, jauh yang terpenting bagi ummatnya adalah selalu terus berupaya untuk mencintainya, dan tanda kita mencintainya adalah dengan meneladani serta memperbanyak sholawat untukknya. Sholawat inilah indikasi cinta kepada beliau, kemungkinan dari sholawat ini hati ummatnya akan tergerak kebaikan-kebaikan yang diajarkan nabi. Sholawat juga merupakan sambung hati kita terhadapnya, Allohumma sholli ala sayyidina Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *