Mengenal Happy Hipoxia dan Anosmia Sebagai Gejala Covid 19

 

Mengenal Happy Hipoxia dan Anosmia Sebagai Gejala Covid 19

Jakarta | Jurnalexpress.com,- Pandemi covid 19 nampaknya masih jauh dari kata “normal”, faktanya jumlah orang yang dinyatakan positif covid 19 terus bertambah, bahkan trendnya mengalami peningkatan. Hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor, diantaranya kesadaran kolektif masyarakat untuk memperhatikal protokol kesehatan masih rendah, sebagian masyarakat sudah merasa jenuh di rumah, adanya beragam kebutuhan hidup yang menyebabkan mereka harus keluar rumah, pemeriksaan covid 19 yang semakin masif, dan lain – lain. Terlepas dari berbagai penyebab di atas, intinya masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan penyebaran virus tersebut dengan benar – benar mematuhi dan melaksanakan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah. Ujar Pemerhati Kesehatan Dede Farhan Aulawi yang dihubungi melalui sambungan seluler di Bandung, …( ).

Selanjutnya Dede yang juga pernah mengajar di Bandung Pilot Academy atau Sekolah Para Calon Pilot ternama di kota Bandung ini mengatakan bahwa gejala orang yang tertular virus corona memang sangat beragam. Namun sebagian besar merupakan gejala ringan seperti demam, batuk, kelelahan, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan sesak napas. Namun saat ini ada gejala baru yang disebut dengan Happy hypoxia atau hypoxemia.

Hipoksia adalah kondisi rendahnya kadar oksigen di sel dan jaringan sehingga mengakibatkan sel dan jaringan yang ada di seluruh bagian tubuh tidak dapat berfungsi dengan normal. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menyebabkan kematian jaringan. Nomalnya, oksigen yang diperoleh melalui kegiatan bernapas akan diangkut oleh darah dari paru-paru menuju ke jantung. Jantung selanjutnya akan memompa darah yang kaya oksigen ke seluruh sel tubuh melalui pembuluh darah. Hipoksia terjadi saat oksigen tidak sampai ke sel dan jaringan. Akibatnya kadar oksigen di jaringan akan turun yang diikuti dengan kemunculan keluhan dan gejala. Hipoxia tidak sama dengan hipoksemia. Hipoksemia adalah kondisi saat kadar oksigen di dalam darah rendah. Kondisi hipoksemia bisa berlanjut menjadi hipoksia.

Kemudian Dede juga menjelaskan tipe – tipe hipoksia berdasarkan penyebab kurangnya oksigen di sel dan jaringan, yaitu pertama, Hipoksia hiposik (hipoksemia hipoksia), disebabkan kurangnya oksigen di dalam darah. Kedua, Hipoksia histotoksik, disebabkan jaringan tubuh yang tidak dapat menggunakan oksigen yang tersedia. Ketiga, Hipoksia metabolik, disebabkan lebih banyak oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh daripada biasanya. Keempat, Hipoksia stagnan yang disebabkan oleh kurangnya aliran darah, dan kelima, Hipoksia anemik, disebabkan kurangnya kadar hemoglobin dalam sel darah merah.

Sementara itu ada beberapa gejala hipoksia yang umum terjadi, seperti Napas menjadi cepat, Sesak napas, Detak jantung menjadi cepat atau sebaliknya menjadi lamban, Kulit, kuku, dan bibir berwarna kebiruan (sianosis) atau justru berwarna merah seperti ceri, Lemas, Linglung atau bingung, Hilang kesadaran, Batuk dan/atau Sulit bicara.

Untuk mendiagnosis hipoksia dan mengetahui penyebabnya, dokter pada umumnya akan melakukan pemeriksaan seperti Tes oksimetri, untuk memantau kadar oksigen di dalam darah. Tes darah lengkap, untuk melihat tanda-tanda anemia atau infeksi. Tes fungsi paru, untuk memeriksa apakah paru berfungsi dengan normal. Analisis gas darah, untuk mengevaluasi metabolisme dan pernapasan, serta kemungkinan adanya keracunan. Elektrokardiogram (EKG), untuk melihat tanda kerusakan jantung atau detak jantung tidak beraturan. Foto Rontgen atau CT scan pada dada, untuk melihat kelainan pada paru-paru, seperti pneumothorax atau infeksi paru. CT scan atau MRI pada kepala, untuk melihat kelainan pada otak, seperti tumor, stroke, atau perdarahan. Echo jantung, untuk memantau struktur dan kondisi jantung, sehingga kerusakan atau kelainan di jantung atau katup jantung dapat terdeteksi

Penanganan yang dilakukan untuk mengatasi hipoksia pada umumnya pemberian oksigen bertujuan untuk meningkatkan kadar oksigen di dalam tubuh pasien. Terapi tambahan oksigen bisa diberikan melalui, masker atau selang hidung (nasal kanul), yang pemilihannya akan disesuaikan dengan kondisi pasien dan kadar oksigen yang ingin dicapai. Terapi hiperbarik, untuk hipoksia jaringan yang parah atau pasien yang keracunan karbon monoksida. Alat bantu napas (ventilator), untuk hipoksia yang parah dengan kesulitan bernapas, dan obat-obatan. Penurunan kadar oksigen yang tidak segera diatasi bisa berlanjut menjadi hipoksia jaringan dan hipoksia serebral (kekurangan oksigen di otak). Hipoksia tersebut mengakibatkan kerusakan sel, jaringan, maupun organ-organ tubuh, misalnya otak. Kerusakan jaringan otak dapat membuat penderitanya kehilangan kesadaran dan mengalami gangguan fungsi organ di seluruh tubuh. Kondisi ini dapat berujung pada kematian.

Namun jangan lupa juga untuk memperhatikan pemberian oksigen agar tidak berlebihan karena berisiko menyebabkan komplikasi. Pemberian oksigen secara berlebihan (hiperoksia) dapat meracuni jaringan tubuh dan menyebabkan katarak, vertigo, perubahan perilaku, kejang, bahkan gangguan pada sistem pernapasan. Salah satu cara yang cukup aman adalah dengan berlatih teknik Deep Breathing untuk mendorong udara ke paru-paru. Saat menahan napas di akhir napas, akan membuka kantong udara, meningkatkan area permukaan untuk pertukaran gas di dalam paru-paru, dan meningkatkan kadar oksigen dalam tubuh. Nikita Desai, ahli paru di Cleveland Clinic mengatakan bahwa teknik pernapasan dalam mampu memfokuskan energi pasien dan memberikan kontrol atas perawatannya.

Ada juga gejala yang disebut anosmia, yaitu tidak bisa merasakan aroma karena indra penciuman tidak bekerja dengan baik. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances mengungkap kalau infeksi virus corona SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bisa merusak sel-sel penting yang mendukung kinerja sel saraf penyampai bau ke otak, termasuk bagian atas hidung yang berisi saraf penciuman. Saraf penciuman ini adalah sekumpulan fiber saraf yang pertama kali menerima informasi bau dari dunia luar, lewat reseptor yang bereaksi terhadap berbagai senyawa kimia, dan mengirimkannya ke otak untuk diproses. Menurut para peneliti dalam jurnal tersebut, ditemukan bahwa jaringan saraf penciuman punya sel-sel yang mengekspresikan protein kunci bagi virus corona, yaitu ACE2 dan TMPRSS2 yang reseptornya bisa dibajak virus.

“ Oleh karenanya kita semua selalu menghimbau agar seluruh lapisan masyarakat agar benar – benar memperhatikan dan melaksanakan protokol kesehatan, agar mampu meminimalisir penularan dan sekaligus bisa tetap sehat dalam melakukan aktivitas sehari – hari. Bukan hanya untuk diri sendiri saja, melainkan juga untuk keluarga, tetangga, saudara dan handai taulan semua harus selalu saling mengingatkan agar tetap sehat “, pungkas Dede mengakhiri percakapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *