Refleksi Masa Pandemi

Oleh : Wachyuni

(Penyuluh Agama Islam non PNS Kecamatan Beji)

Hikmah selalu ada pada sudut kejadian apa saja. Dalam setiap yang terjadi akan ada pelajaran yang dapat dipetik. Dengan begitu diary amal kita terkoreksi dengan baik. Tidak usai koreksi akan kambuh lagi.

Selama pandemi covid 19, banyak sekali yang tertimpa kekurangan harta. Disamping kita diuji adanya wabah berupa virus yang mudah menyerang. Ujian lainnya tentu terdapat dalam lini sektor. Ekonomi, kesehatan, kegiatan pendidikan, kegiatan keagamaan dan lain sebagainya. Ujian yang komprehensif ini mengurucut pada hal ekonomi. Tumbang kerja cukup banyak. Kebingungan mengatur finansial juga bikin kesambar halilintar. Antara terus bekerja yang terancam wabah dan diam di rumah agar tetap dipastikan sehat. Situasi yang benar-benar susah untuk dipilih.

Maha besar Alloh sang kreator hidup. Tentu semua yang terjadi akan ada dampak. Salah satu dari sekian kecil juga perubahan budaya dan pemikiran.

Jika sebelum pandemi, bekerja lancar, pemasukan ekonomi juga sangat bisa diharapkan. Tiba-tiba wabah corono bisa dengan cepat menggerus perekonomian. Orangtua yang terbiasa menyerahkan pendidikan di sekolah, pondok pesantren, tempat ngaji, majlis ta’lim, tiba-tiba harus terhenti dan dididik oleh orangtuanya sendiri. Kebayang tidak, bagaimana perasaan orangtua yang tidak begitu pandai mendidik anak?

Situasi semacam ini tentunya mengajak agar merefleksikan apa dan harus bagaimana.

Yang pasti, dari pandemi covid 19 harus disadari :

1. Bagaimana menggunakan waktu dengan baik. Sebelum ada pandemi c.19, suka bermalas-malasan, acara molor berjam-jam. Begitu ada wabah, sangat terasa bahwa waktu adalah uang. Atau waktu adalah pedang. Dia akan menghunus siapapun yang meremehkannya. Bagaimana tidak, pandemi c.19 ini mengajarkan agar bekerja dengan tepat sasaran serta tujuan, lalu segera meninggalkan tempat kerja.

2. Hal yang paling berharga lagi adalah hidup _sakmadyoh_ (sederhana) secukupnya tanpa berlebihan. Rasa kekurangan yang dialami banyak orang, mungkinkah kita masih senang dengan kelebihan yang dimiliki. Tidak ibah kah pada banyak orang yang kemudian terjungkir kerjanya.

3. Dalam masa lockdown, tentu merasa apa arti tidak bersama. Sisi egoiame akan pupus jika menyadari bahwa sangat tidak bisa tanpa kehadiran orang lain.

Semua sudah mengandung hikmah, yang itu bisa dipetik sesukanya. Jika memetiknya sekedar saja, pelajaran yang didapat akan biasa-biasa saja. Jika memetiknya dengan penuh analisa hati dan pikiran, pasti akan muncul _new positive culture_.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *