Model Pembelajaran di Era Disrupsi dalam menghadapi Pandemi Covid-19

Oleh : Firdausi Nujulah, M. Pd

Penyebaran virus corona di dunia angkanya masih terus bertambah. Kasus baru, angka pasien sembuh, dan jumlah kematian masih mengalami perubahan yang signifikan. Virus Corona di Dunia mencapai 2 Juta lebih Orang Terinfeksi sedangkan 600-an ribu Sembuh, Tidak dapat dipungkiri fenomena yang terjadi saat ini telah berdampak terhadap sector pendidikan. Yang mana hal ini telah diakui oleh UNESCO. Mencapai 300an juta siswa terganggu kegiatan sekolahnya di hampir seluruh penjuru dunia dan mengancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan. Saat Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia pada (2/3), Presiden menghimbau masyarakat supaya mengurangi aktivitas diluar rumah demi menekan mata rantai penyebaran virus Covid-19 di Indonesia “Saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah dirumah” ujar Presiden dalam konferensi pers di istana bogor, jawa barat (15/3).

Sejak itu pemerintah Indonesia memberlakukan Social Distancing, kebijakan ini memberikan dampak yang sangat luar biasa terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Hampir semua kegiatan sekolah diliburkan dan diganti dengan sistem daring. Namun  menurut perspektif  sosiologi untuk belajar dirumah sudah tepat dilakukan dalam kondisi seperti saat ini. Pembelajaran dialihkan kepada teknologi dan media sosial. Hampir seluruh sekolahan di Indonesia mengganti pertemuan kelas mereka dengan pemberian tugas rumah (E-Learning) kepada murid, pemberian tugas di rumah (E-learning) bertujuan supaya murid belajar dirumah saja tanpa harus ke sekolah dan bertemu banyak orang. Sedangkan di perguruan tinggi mengalihkan pertemuan kelasnya dengan pertemuan daring ataupun tugas daring.

Covid-19 saat ini menjadi salah satu gejala social di masyarakat, kontak sosial dilakukan dengan cara kontak sekunder yaitu menggunakan perantara teknologi dalam pembelajaran dikelas, sebisa mungkin mampu memanfaatkan teknologi dalam satu pertemuan pembelajaran melalui online dengan baik . Sedangkan menurut teori interaksi simbolis atau teori labeling permasalahan covid 19 ini, yaitu suatu kondisi sosial didalam masyarakat yang dapat dikatakan bermasalah, atau adanya pelabelan. Kondisi ini telah menjadi suatu permasalahan internasional. Dan pada faktanya benar memang permasalahan virus corona ini menjadikan suatu kondisi yang begitu menghawatirkan. Masyarakat melabel masalah covid-19 ini menjadi permasalahan yang sangat serius karena keadaan virus ini berstatus darurat bencana non-alam yang oleh BNPB diperpanjang hingga tanggal 01 Juni 2020.

Sektor pendidikan menjadi penanggung jawab terbesar sebagai cara menyiapkan sumber daya manusia sebagai bekal masa depan generasi penerus bangsa. Sekolah adalah salah satu lembaga pembelajaran yang mempunyai guru harus dapat meningkatkan kompetensi pedagogik dalam mendesain pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan era industri 4.0. Era ini ditandai dengan perkembangan teknologi secara evolutif. Kecanggihan teknologi sudah banyak memberikan harapan baru untuk semua elemen pendidikan karena memberikan banyak kemudahan dalam mengakses sumber informasi yang bersifat daring. Terlebih peserta didik adalah generasi Z saat ini, ia menjadi sosok pribumi digital yang telah akrab dengan properti HP dan tehnologi terkoneksi dengan internet dimana pun dan kapan pun. Hal ini berdampak kepada gaya belajar dan literasinya dalam memecahkan masalah yang menjadi lebih praktis dengan penyajian secara daring. Sementara itu, guru lebih banyak lahir di tahun 1960-1970 yaitu generasi X. Generasi ini dilahirkan dengan keterbatasan teknologi yang tidak sepesat sekarang sehingga guru menghadapi gaya literasi dan pola belajar peserta didik yag mengalami disrupsi, dikarenakan gurunya lebih menyukai sumber ilmu pengetahun dan cara belajar yang disajikan secara luring. Manajemen pendidikan yang berbasis tehnologi akan lebih memiliki proses yang baik dalam kegiatan belajar mengajar yang nantinya akan melahirkan output berkompeten yang sesuai dengan kebutuhan di dunia sekarang ini, sehingga mampu membangun bangsa dan mampu bersaing di era disrpusi.

Era disrupsi memberi dampak yang begitu luas dalam berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali tuntutan dalam inovasi pembelajaran yang tidak hanya sebatas mengedepankan tatap muka, tetapi butuh ditunjang fasilitas sumber online pada setiap pembelajaran. Model pembelajaran merupakan modal adanya inovasi pendidikan. Seperti yang di ungkap oleh Lyle dalam bukunya di tahun 1993 Pendidikan adalah kunci dari maju atau mundurnya suatu bangsa dan negara karena di tangan pendidikan yang bermutulah generasi bangsa di bentuk untuk memiliki kompetensi. Dengan begitu, Pendidikan yang bermutu sebagai kunci dari majunya suatu negara. Disinilah Guru mempunyai tanggung jawab besar sebagai kompetensi kepemimpinan yang akan menentukan subtansi pembelajaran dan membekali kepribadian siswa yang meningkatkan cara belajar lebih baik dari sebelumnya melalui tugas-tugas dirumah. Seorang guru membutuhkan kemampuan dan penguasaan bidang teknologi supaya dapat memimpin pembelajaran nya secara online. Jadi, ini maksudnya seorang guru harus memiliki metode menyampaikan materi dan bida mengembangkan keteladanan sebagai sumber rujukan keseharian peserta didik selama belajar di rumah, sehingga tetap dapat membawa unsur-unsur lembaga secara sistemik ke arah yang di kehendaki sesuai dengan tujuan yang telah tertulis kemudian dikembangkan dalam perangkat pembelajaran. Kompetensi pedagogik merupakan dasar pengetahuan dan dasar keterampilan yang perlu dikuasai oleh para guru agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. Perkembangan ini ditandai oleh setiap orang ,termasuk peserta didik sehari-harinya baik komunikasi, sumber belajar dan cara memenuhi kebutuhan sehari-hari menggunakan smartphone yang terkoneksi dengan internet.

Rhenald menawarkan beberapa model pembelajaran di era disrupsi dapat diterapkan oleh guru dalam situasi menghadapi pandemic covid-19 ini misalnya Instruction should be student-centered (Information) yaitu pengembangan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa menjadi subjek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa bukan hanya dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan oleh guru, namun siswa dapat berusaha mengkonstruksikan pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kemapuan tingkat perkembangan berfikirnya, serta diajak ikut serta dalam memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat. Yang kedua model Learning should have context, not komputasi yaitu materi pembelajaran harus dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang dapat membantu siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu peserta didik supaya mendapatkan nilai, makna dan keyakinan atas sesuatu yang sedang dipelajarinya serta mampu mengaplikasikan di kehidupan sehari-harinya. Yang terakhir model Schools should be integrated with society not Otomasi yaitu dalam usaha mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang bertanggung jawab, pembelajaran seharusnya mampu memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Seperti contoh, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat terkait pandemic Covid-19.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *