Formasi Pasukan “Opini” dan “Psikologi” Memenangkan Perang Modern

Dede Farhan Sukawi, Komisioner Kompolnas

Formasi Pasukan “Opini” dan “Psikologi” Memenangkan Perang Modern

Peradaban manusia dari zaman ke zaman terus berubah. Perubahan ini tentu dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya perkembangan teknologi, perubahan pola fikir, dan lain-lain. Semua variabel perubahan ini pada akhirnya berimplikasi pada perbedaan berbagai kepentingan satu negara dengan negara lainnya. Boleh jadi karena kepentingan politik/ideologi, kepentingan ekonomi, kepentingan teritorial, kepentingan penguasaan sumber daya alam, kepentingan sumber daya pangan/ makan, ataupun air. Dari sekian banyak perbedaan kepentingan tersebut boleh jadi akan bermuara pada apa yang disebut peperangan.

Terkait hal ini, media berbincang-bincang melalui sambungan telepon dengan Pemerhati Strategi Pertahanan Dede Farhan Aulawi yang tengah berada di kediamannya di Bandung, Rabu (22/4). Menurut Dede saat ini telah terjadi pergeseran platform peperangan. Perang dalam arti konvensional probabilitasnya akan berkurang, kemudian berubah ke model strategi perang baru, yaitu perang opini dan perang psikologis. Di samping soal pilihan penggunaan senjata, sampai ke senjata kimia ataupun senjata biologis. Lalu selanjutnya pasukan “opini” dan pasukan “psikologi” yang akan bergerak maju dalam formasi perang total. Karena walau bagaimanapun pada akhirnya peperangan akan membutuhkan opini rakyatnya dan opini dunia untuk mendukung atau menolaknya. Ujar Dede.

Selanjutnya Dede juga menjelaskan bahwa istilah perang opini mulai dikenal katika juru propaganda Nazi menjelang Perang Dunia II, Dr. Joseph Goebbels mengatakan, “Jika kita mengulang-ulang kebohongan sesering mungkin dan dengan keteguhan, rakyat (pasti) akan mempercayai kebohongan itu sebagai kebenaran !”. Maksud dari ucapannya ini adalah, kebohongan yang disampaikan secara terus-menerus, masyarakat/rakyat akan menganggap sebuah kebenaran.

Strategi perang inilah yang saat ini banyak dipakai untuk memenangkan opini publik demi kepentingannya dalam menghancurkan musuh.

Oleh karena itu tidak heran, jika mereka sering bersembunyi di balik akun anonim atau disamarkan. Mereka menyebarkan opini yang dikemas dalam berbagai bentuk lewat berbagai media sosial, seperti portal berita online, facebook, WhatsApp berantai, twitwar di twitter, bahkan menampilkan potongan video secara masif di Instagram atau youtube.

Kemasan opininya berupa berita, analisis atau asumsi, gambar/foto yang membangun persepsi (Meme), propaganda, bahkan konten-konten berisi fitnah belaka. Mereka akan melakukan dengan segala cara, tanpa mengenal waktu. Mereka akan bergerilya dan faham kapan harus menyerang atau bertahan, meskipun bukan di dalam medan perang sesungguhnya. Sementara targetnya adalah bagaimana memenangi pemikiran publik. Ucap Dede.

Kemudian dia juga menjelaskan tentang Psywar (Psychological Warfare) atau biasa disebut perang urat syaraf merupakan suatu bentuk serangan propagands psikologi dengan tujuan membangkitkan reaksi psikologis sesuai rancangannya.

” Konsep dasar dari Psywar ini berbeda dengan perang-perang konvensional yang bermodalkan senjata atau berbagai peralatan fisik lainnya untuk mengalahkan musuh. Psywar memanfaatkan sisi psikologis dan pemikiran lawan agar bisa dipecah konsentrasinya, sehingga benteng akhir pertahanan musuh bisa dijebol sampai jantung kekuatannya. Lumpuh dan menyerah sehingga tunduk pada apa yang diinginkan sesuai kepentingan ” pungkas Dede mengakhiri perbincangan di sore hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *