Tasawuf Pergerakan

Sejarah manusia mencari tuhan telah banyak melahirkan para tokoh, alur cerita dan drama pencarian tuhan dengan berbagai perspektif jalan ketuhanan. Dunia seolah menjadi panggung bagi para pencari Tuhan di satu sisi sekaligus penafian terhadap tuhan di sisi yang lain.

Dalam tinjauan islam, metode atau cara dalam menuju tuhan dikenal dengan nama Thoriqoh, sedang penempuh jalan itu bernama salikun atau dikenal dengan para sufi (pengamal ilmu tasawuf). Thoriqoh adalah jalan spiritual menuju pada tuhan, ahlu sunnah waljama’ah setidaknya mengakui ada 43 cabang Thoriqoh yang mu’tabaroh di dunia ini. Diantara berbagai thoriqoh itu antara lain adalah Naqsabandiyah, Qodiriyah, Akbariyah dan Saydziliyah, atau ada thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah yang merupakan gabungan dua kutub thoriqoh besar yang dilakukan oleh ulama Nusantara Syekh Khotib as Sambasi.

Tulisan ini tidak hendak mengajak anda mengikuti atau meninggalkan thoriqoh mu’tabaroh, tapi tulisan ini memberikan perspektif lain tentang bagaimana “menuju tuhan” dalam konteks sejarah spiritual. Konteks pendekatan yang mungkin berbeda dengan lokalisir arus spiritual selama ini yang cenderung asyik masyuk dalam kesunyian dan citra thoriqoh yang sebatas pada ritual dan riyadloh. Agaknya menjadi kekhawatiran bagi penulis terkait dengan upaya “lokalisir jalan” menuju tuhan, namun sekali lagi tulisan ini bermaksud membedah jalan lain menuju tuhan dengan pendekatan sejarah spiritual yang selama ini terdokumentasikan secara orisinil dalam kitab suci/pedoman hidup yang bernama al Qur’an.

Dalam hadits Qudsipun Tuhan berkata bahwa banyaknya jalan menuju Aku (Tuhan) sebanyak hembusan nafasmu. Ini artinya ada bermilyar-milyar cara untuk dapat wushul kepada Tuhan dan ketetapan itu sesuai dengan masing-masing individu yang memiliki profesi dan kedudukan yang berbeda. Tidak ada cermin tunggal dalam mendefinisikan siapa dan seperti apa manusia yang dekat dengan tuhan atau manusia yang telah sampai pada tuhanNya. Kesalehan adalah kepantasan, maka bentuk kesalehan pun berbeda-beda sesuai dengan dalam maqom apa ia ditempatkan. Dalam bahasa yang ‘nakal’, citra manusia yang sampai pada tuhan tidak hanya bergambar jubah,butiran tasbih dan khotbah.

Dalam konteks PMII, pertanyaannnya adalah apakah para aktifis mahasiswa (yang secara tampilan dan penampilan berbeda dengan para sufi) bisa mempuh jalan tuhan ? ini adalah pertanyaan mendalam yang wajib untuk di jawab dan selama ini jawabannya adalah samar dan remang !. atau ada pertanyaan apakah cara-cara yang kita lakukan selama ini mampu mengantar kita untuk dapat wushul dan disayang tuhan ? Dalam menjawab ini penulis menggunakan pendekatan sejarah spiritual yang terdokumentasikan dalam berbagai naskah yang shahih dan mencengangkan.

Jika anda percaya dengan al Quran yang Qodim, maka al Quran telah menyanjung dan mengabadikan kelompok anak muda yang dinamis dan kritis dalam salah satu suratnya. Tentu anda akrab dengan surat al kahfi dan kisah ashabul kahfi. Kisah kelompok anak muda yang tidak hanya asyik dalam ritual ibadah namun juga dengan lantang berani melawan kebijakan penguasa. Harus diakui memang kelompok ini kalah dan lari ke dalam gua, namun mengapa Allah menyanjungnya dan memberikan penghargaan atas upayanya dan menjadikan kisahnya abadi dalam surat yang tekandung dalam al Qur’an yang Qodim. Kisah ashabul kahfi dapat dimaknai bahwa Tuhan menyanjung dan mencintai anak muda yang mau memikirkan kondisi masyarakat dan pemerintahannya, sejarah ini juga berarti tuhan cinta dan bangga dengan anak muda yang berani dan melawan penguasa yang dzolim.

Lebih jauh lagi, sejarah spiritual adalah sejarah perlawanan terhadap ketidak adilan dan kedzoliman, sejarah ini tidak hanya berisi tentang golongan orang-orang yang sibuk dengan ritual ibadahnya semata. Bacalah Bagaimana perlawanan Ibrahim/Abrahan/Brahma (bapak agama tauhid) yang melakukan kritikan dan perlawanan pada Namrud, lalu bagaimana Musa yang melakukan demonstrasi dan aksi perlawanan kepada penguasa lalim yang bernama Firaun atau bagaimana Baginda nabi Kita yang melakukan perlawanan pada sistem sosial masyarakat yang jahiliyah. Ini adalah gambaran shahih bagaimana thoriqoh pergerakan itu ada dan berdiri.

Thoriqoh Pergerakan yang merupakan cara bagi aktifis PMII untuk menggapai tujuan “ilahi anta maqsudhi wa ridhoka mathlubi” adalah dibangun diatas pondasi sejarah spiritual yang telah dicontohkan oleh alMursyid ashabul kahfi dan para Nabi. Jalan yang secara sadar dipilih sesuai dengan kedudukan dan perannya sebagai kumpulan anak muda yang sama seperti ashabul kahfi, yakni sebagai kumpulan kaum muda pengkritik dan melakukan perlawanan pada kebijakan dzolim yang tidak berpihak pada kaum mustadh’afin serta penguasa yang mentuhankan kekuasaan. Thoriqoh pergerakan juga mengajarkan untuk keluar dari kungkungan tampilan fashion kesucian dan pencitraan kesolehan yang banyak di jumpai di jalan spiritual.

Dengan itu maka kesadaran harus dihidupkan, bahwa demonstrasi dan aksi yang selama ini dilakukan harus diyakini sebagai upaya menyuarakan kebenaran dalam menggapai ridhonya, bahwa diskusi yang kita lakukan adalah amalan sholeh yang bertujuan menggapai ridhonya, bahwa pilihan bacaan kita pada berbagai pemikiran seperti Marx dan Nietsche sekalipun harus diyakini sebagai amal ibadah seperti perintah Iqro dalam al Qur’an, bahwa segala tindakan dan gerakan kita kemudian mendapat cemoohan dan cibiran itu adalah sarana tuhan dalam menjaga keikhlasan gerakan yang kita lakukan. Ingatlah tauhid pergerakan, bahwa hanya tuhanlah semata objek pencitraan kita. Usah kau takut dengan kalah karena ashabul kahfipun tetap mulya sekalipun kalah.

Spiritualitas bukanlah hanya bagaimana merasakan kenikmatan ruhaniah dalam ritual ibadah, tapi spiritualitas haruslah mempunyai dampak kenikmatan sosial yang membebaskan. Untuk itu ritual thoriqoh pergerakan tidak hanya berhenti pada olah dzikir saja (dengan mengamalkan ajaran dzikir yang mu’tabaroh), tapi juga dalam Fikir (tafakur,membaca, diskusi, red) dan terimplementasi dalam amal sholeh (gerakan).

Yakinlah dengan jalan ini sahabat, Tuhan bersama orang-orang pemberani. Langit akan selalu biru dan matahari tetaplah kuning diatas bumi yang Hijau. Wallahul muwaffieq ilaa Aqwamith Thorieq. Amin

Oleh : M. Iskandar Zulkarnain, SP

Ditulis ketika aktif Sebagai Ketua Komisariat PMII Merdeka Pasuruan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *