JAS MESI PMII

Berkesan dengan orasi dari salah satu Sahabatku dalam Moment Harlah ke 52 PMII di Pasuruan pada bulan April lalu, Jika Bung Karno pernah fenomenal dengan Pidatonya yang berjudul Jas Merah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah) maka Sahabat Waladi dalam orasinya juga tak kalah “wah” dalam berdialektika dengan pesan yang disampaikannya. Dalam tema besarnya beliau berpesan kepada seluruh kader PMII untuk selalu “JAS MESI” (Jangan sekali-kali meninggalkan tradisi).

Dalam salah satu dawuhnya Gus Dur pernah berkata “Saya tidak akan menangisi matinya sebuah organisasi, tapi saya akan sangat menangisi matinya sebuah tradisi”. Hal ini menjelaskan kepada kita betapa vitalnya sebuah Tradisi. Sebuah tradisi dibangun diatas konsistensi budaya yang hidup selama ratusan bahkan mungkin ribuan tahun dalam suatu komunitas. Tradisi dapat berarti tatanan nilai yang membentuk karakteristik dan corak kehidupan masyarakat. Anda mungkin bisa menjadi seorang pemikir atau filsuf yang handal dengan buku dan tulisan-tulisan anda, tapi mewujudkan gagasan menjadi sebuah tradisi luhur dalam tatanan kehidupan masyarakat adalah sesuatu hal yang sulit untuk dilakukan. Dari sudut pandang lain, tradisi dapat bermakna identitas yang khas dari suatu komunitas, maka menjaga tradisi sejatinya adalah menjaga identitas jati diri kita dan hilangnya tradisi berarti hilang pula identitas jati diri kita (krisis identitas). Bandingkan dengan sebuah organisasi, jika organisasi mati/bubar maka besok atau sesaat setelah itu kita dapat dengan mudah membuatnya kembali.

Namun, aku lebih memilih memaknai tradisi itu sebagai sebuah istiqomah. Istiqomah karena dilakukan dan ditegakkan secara continue dan konsisten (Ajeg) dalam waktu yang lama sehingga akan menciptakan suatu karomah yang luar biasa. Ambil contoh tradisi gotong royong pada masyarakat kita, tradisi ini hidup dan berkembang selama ratusan bahkan ribuan tahun sehingga membentuk citra diri dan jati diri masyarakat Nusantara. Dengan tradisi gotong royong itu maka terciptalah karomah seperti guyub rukun dan solidaritas pada sesama, luar biasa bukan !

Yang menjadi kekhawatiran adalah ketika sebuah tradisi luhur yang membentuk citra diri dan jati diri sudah mulai hilang, maka yang terjadi adalah sebuah komunitas tanpa identitas, hilang jati diri sehingga terbentuklah generasi ‘galau’ yang tidak berkarakter.

Dalam konteks PMII, “Jas Mesi” dapat berarti menjaga tradisi-tradisi luhur yang membentuk citra diri Organisasi dan jati diri kader. Jangan sekali-kali meninggalakan tradisi- tradisi yang telah hidup dan berkembang, karena yang demikian hanya akan menjadikan organisasi bak tempat sampah penampungan.

Tradisi-tradisi luhur PMII tertuang dalam penjabaran Tiga Motto Organisasi : “Dzikir, Fikir dan Amal Sholeh”. Tiga Motto ‘keramat’ itu kemudian dijabarkan menjadi tiga tradisi yang selama ini hidup dan berkembang dalam tubuh “Perisai Berbintang Sembilan”.

  •  Tradisi Intelektual

Dalam mengkreasi kadernya, PMII telah membangun sebuah tradisi inteketual yang menjadi ruh dari proyek kaderisasinya. Sebagai komunitas Mahasiswa, kader PMII harus menjunjung tinggi intelektualitas. Tradisi membaca, diskusi, menulis dan bertafakur merupakan empat bagian integral dari tradisi intelektual warga pergerakan yang tidak boleh ditinggalkan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tradisi sebagai istiqomah akan secara fitrah melahirkan karomah, pun demikian dengan tradisi intelektual dengan istiqomah membaca, menulis, berdiskusi dan bertafakur akan menghasilkan karomah intelektualitas kader yang “istimewa”. Dengarlah.. kaderisasi sejatinya cukup hanya dengan menjaga dan merawat empat bagian integral dari tradisi intelektual. Jaga dan jangan sekali-kali meninggalkan.

  • Tradisi Gerakan

Dalam sejarahnya, PMII mempunyai konsistensi dan garis perjuangan yang jelas dan tegas. Dari bingkai sejarah tersebut telah terbangun tradisi luhur kaum pergerakan yang kemudian menjadi identitas shahih dari organisasi yang kita cinta. Tradisi gerakan yang berjalan diatas rel NDP (Nilai-nilai Dasar Pergerakan) yang berisikan Ketuhanan, Kemanusiaan dan Pelestarian alam menjadi landasan mutlak dalam bergerak. Tauhid menjadi element dasar dalam membangun sebuah gerakan, karena ingatlah..! Agama tidak hanya mengajarkan kepada kita tentang bagaimana “bermesraan” dengan Tuhan semata, tapi manusia sebagai khalifahNya telah diwajibkan untuk menegakkan keadilan dan membunuh kemiskinan seperti yang pernah Imam Ali dawuhkan. Tauhid juga bermakna bahwa cukuplah Tuhan semata penilaian atas segala gerakan kita, PMII bukanlah sebuah partai politik yang membutuhkan pencitraan dan penilaian masyarakat untuk keberlangsungan hidupnya. Berpuaslah hanya dengan pandangan Tuhanmu saja !. Nilai Kemanusiaan menjadi pijakan selanjutnya dalam membangun gerakan, kaum mustadh’afin harus senantiasa didefinisikan agar arah perjuangan menjadi terarah dan tepat sasaran, wujudkan keadilan dan jangan ada satu manusiapun yang tertindas di negri ini dengan alasan apapun, itulah tradisi gerakan yang harus senantiasa hidup dan berkembang dalam organisasi pergerakan. Nilai selanjutnya adalah Pelestarian alam, zaman modern dengan produk manusia yang diciptakan telah melahirkan generasi yang eksploitatif dan rakus pada alam. Berbicara tentang mustadh’afin, Bumi kitalah yang saat ini diperkosa dan ditindas dengan semena-mena, kerusakan alam akibat ulah tangan setan telah menjadikan bumi sebagai mahluk yang memprihatinkan sekaligus rawan karena produksi bencananya. Maka sebetulnya hanya ada satu kata atas rakusnya ekspolitasi alam “LAWAN”. Oleh karena itu hidupkanlah tradisi gerakan yang mulia, karena para Nabipun bukan manusia yang hanya sibuk “bercinta” dengan RabbNya, tapi merekalah manusia pemberani yang berijtihad dan berjihad menegakkan keadilan dan kehidupan yang lebih baik. Contohlah beliau yang mulai, usah kau khawatir dengan ‘kalah’. Karena Ashabul Kahfipun tetap mulia sekalipun dalam perjuangannya mereka kalah.

  •  Tradisi Spiritual

Sebagai organisasi yang bernafaskan spiritual dan mengerti bahwa manusia tidak hanya sebagai mahluk sosial, tapi juga sebagai mahluk spiritual. Ada kata-kata guyon namun memiliki makna kebenaran bahwa “orang bodoh dapat dikalahkan oleh orang pintar, orang pintar dapat dikalahkan oleh orang cerdas, namun kesemuanya dapat dikalahkan oleh orang yang beruntung”. Nah, keberuntungan itu adalah ranah spitiual atau hasil olah spiritual. Dalam ragam tradisi spiritualnya, PMII mengasah spiritual kadernya melalui tradisi berziarah dan bertawashul pada para Auliya, disamping untuk mendekatkan diri kepada Allah sang maha cinta, tapi juga merupakan pengikatan hubungan spiritual dengan beliau para Auliya yang mulia. Selain itu, tradisi tirakat dan riyadloh masih tetap dilestarikan oleh para kadernya, seraya teguh memegang tradisi berdzikir dan tradisi dekat dengan para Ulama. Jagalah tradisi spiritual ini, karena ini adalah identitasmu.

Akhirnya.. dimanapun engkau melangkah, selalu pakailah Jas Mesi yang berwarna Biru langit menyala dengan tancapan perisai berbintang Sembilan di dada.

Langit tetaplah biru mengangkasa dan Matahari akan selalu Kuning Menyala, ilaa yaumil Qiyamah..

Wallahul muwaffieq ilaa Aqwamith Tharieq. Amiin.

SALAM PERGERAKAN !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *