Ideologi Gus Dur

Dalam Buku Sang Zahid karya Husein Muhammad di kisahkan bahwa Beberapa abad yang lalu sejarah dibuat tercengang oleh kematian seorang yang bernama Jalaluddin Rumi, kematian yang menjadi fenomenal karena dihadiri dan kepergiannya diantar oleh Ribuan orang lintas iman. semuanya berduka, bahkan kucing kesayangan sang Sufi besar itupun ikut berduka, kucing itu enggan untuk makan dan akhirnya meninggal beberapa hari kemudian.

Setelah beberapa abad, dunia kembali disuguhi fenomena sejarah yang sama, jutaan orang lintas iman dan dari latar belakang yang berbeda meratap, menangis, dan berduka melepas kepergian seorang yang akrab di panggil Gus Dur, kesedihan yang sampai sekarang masih tersisa. betapa tidak, 5 tahun silam kumpulan manusia lintas iman mulai dari agamawan, anak punk, transgender dan semua golongan masyarakat bak pelangi yang warna-warni berkumpul melepas kepergiannya.

Ada pesan yang terbawa, ada kesan yang tertinggal dan kesemuanya menunjukkan kebesaran sang fenomenal. kebesaran seorang yang penuh cinta dan langkahnya terhiasi dengan jalan kedamaian dan kemanusiaan. bak seorang sufi besar, beliau mencintai manusia secara manusiawi, apapun latar belakang dan baju identitas yang mereka sandang.

beliau seolah mengajarkan bahwa kemanusiaan dan perdamaian itulah kebenaran tertinggi, sedang yang lain adalah perbedaan yang memang telah menjadi kehendak Tuhan dan sesuatu yang tak bisa dipaksakan. sehingga kemudian langkah-langkah yang beliau lakukan semata untuk menegakkan nilai-nilai kemanusian dan konsistensi perjuangan mewujudkan perdamaian.

sikap beliau yang membela hak etnis tionghoa dengan mengakui keberadaan agama konghucu dan memberikan kebebasan kepada mereka untuk hidup dengan budaya dan tradisinya adalah salah satu sikap bijak bestari beliau sebagai manusia yang mengerti akan manusia. sebuah kebijakan yang tidak hanya didasari pada kemanusiaan tapi juga pada pemahaman beliau yang komprehensif pada sejarah nusantara dimana etnis tionghoa telah menjadi bagian penting dalam peradaban negri ini. sikap tulus yang tentu berimplikasi luar biasa. kita mungkin tidak membayangkan bahwa sikap beliau pada pembelaan hak-hak etnis tionghoa adalah sikap yang mengandung pembelajaran sekaligus tamparan pada kedzoliman rezim di dunia yang melakukan pengebirian dan penindasan manusia atas dasar apapun. dengan kebijakan tersebut beliau seolah menyentak dan “mengajari” pemerintah Cina untuk menghormati hak beragama dan berkepercayaan etnis muslim Uighur yang selalu tertindas oleh pemerintah komunis.

Dalam bab lain, sebagai seorang tokoh muslim beliau dikenal dengan gagasan kontroversialnya untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. publik terutama kaum puritan muslim mengecam keras dan bahkan menuduh bahwa Gus Dur adalah antek-antek Yahudi. tindakan itu dilakukan selain aspek untuk kemanfaatan pragmatis Indonesia yaitu dengan memanfaatkan loby yahudi yang kuat di dunia dan membuat bergaining negara kita di timur tengah tapi lebih dalam lagi tindakan itu adalh bukti konkrit Gus Dur pada perannya untuk mendorong perdamaian dan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan di Palestina. Gus Dur selalu mendorong dan berkomunikasi dengan tokoh-tokoh moderat dan cinta perdamaian dari negara Israel maupun Palestina, langkah berani dan progresif yang belum pernah dilakukan oleh tokoh muslim manapun. langkah yang tidak terlihat heroik seperti pidato Ahmadinejad yang hanya indah di media dan selesai dengan tepuk tangan kagum para pecintanya namun justru membuat situasi menjadi selalu panas dan berpotensi gugurnya perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan. ya, dunia memang gampamg terpukau dengan pidato megah daripada kerja-kerja nyata. beliau bekerja dalam kesunyian dan cacian, dalam konteks israel palestina beliau sebenarnya hendak masuk pada konstelasi politik di internal Negara Israel dengan hubungannya yang baik dengan tokoh-tokoh perdamaian dan moderat Israel, dan akhirnya kita tahu bahwa israel bukanlah satu pikiran tetapi seperti di negara manapun israel juga terdiri dari banyak pikiran termasuk orang-orang yang dikepalanya dipenuhi dengan pikiran perdamaian.

Gus Dur adalah pejuang “kemerdekaan”, dalam banyak hal beliau selalu memperjuangkan kemerdekaan berpikir, kemerdekaan bersuara, kemerdekaan berekspresi dan kemerdekaan berkeyakinan. sikap ini beliau lakukan sebagai bentuk pemahaman beliau yang utuh pada teks-teks keagamaan di satu sisi dan sikap Gentle beliau sebagai warga negara yang patuh pada konstitusi di sisi yang lain.

Sikap pembelaan beliau pada Jemaat Ahmadiyah menjadi gambaran sahih bagaimana beliau berindonesia secara kaffah, negara melalui konstitusinya telah tegas menjamin kebebasan warganya untuk berkeyakinan dan beibadah sesuai dengan keyakinannya tersebut. sesungguhnya tindakan beliau tidaklah kontroversial dan aneh, namun masyarakat kita saja yang tidak mengimani keindonesiaan secara utuh dan ditafsirkan sesuai dengan nafsunya masing-masing.

beliau seorang yang konstitusional sekalipun dijatuhkan dari kursi Presiden secara inkonstitusional, sikap negarawan beliau terlihat dengan menyuruh pulang pendukungnya yang sedang kalap dan rela mengorbankan nyawa demi sebuah kebenaran. namun apa yang dilakukan Gus Dur, beliau mengatakan bahwa tidak ada jabatan apapun didunia ini yang layak dipertahankan dengan mati-matian. J Kristiadi menulis adegan memilukan itu dengan menyebut Gus Dur sebagai Sang Resi, seorang suci yang mengedepankan kemanusian diatas kebenaran material.

mendefinisan Gus Dur terlalu sulit, beliau bukanlah bapak pluralisme, bukan sang humanis, bukan cendekiawan muslim, bukan sang humoris atau bahkan bukanlah sang sufi dan Wali, tapi beliau adalah kesemuanya itu. pun demikian dengan ide dan gagasannya, dengan segala konsistensi perjuangan dan gagasannya maka ideologi beliau adalah ideologi Gus Dur itu sendiri, ideologi yang dipenuhi dengan gagasan kemanusiaan dan perdamaian serta ideologi yang mengajak manusia untuk menjaga dan menggerakkan tradisi luhur bangsa.

*di muat di Harian Jawa Pos Radar Bromo 28/12/2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *