Filosofi Pendidikan Masyarakat Jawa

(Bagaimana Masyarakat Jawa mendidik putra-putrinya)

Dewasa ini ada yang perlu dikritiki dalam pemberian asupan nilai pada anak-anak kita. Zaman modern dengan proyek bisnis hiburan anak-anaknya telah melahirkan berbagai macam menu hiburan dan otomatis pendidikan bagi anak-anak kita. anak-anak memang tidak bisa dipisahkan dari belajar dan bermain, karenanya mendidik anak berarti harus memberikan sarana/menu bermain yang baik pula. namun ironis memang, melihat suplai menu hiburan dan media bermain anak-anak zaman sekarang, yang modern mereka bilang. mereka lebih akrab dengan teman virtual dari dunia maya, playstation menjadi alat kaderisasi manusia modern dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan pada anaknya, cerita kartun konyol bak seperti dongeng hikmah pada buah hati kita. cobalah anda menyimak alur-alur ceritanya, anak-anak diajarkan untuk melihat manusia itu hitam-putih, seolah-olah tidak ada hitam pada putih atau tidak ada putih pada sang hitam. seperti cerita bandit dan cowboy yang berarti bahwa tidak ada kebaikan sama sekali pada sang bandit dan sebaliknya tidak ada keburukan sama sekali pada sang cowboy. cerita ini tentu akan menjadikan perspektif justifikasi sang anak ketika dewasa kelak, dia akan melihat segalanya itu hitam dan putih, yang hitam tetap hitam dan yang putih akan tetap putih. dan ironisnya tidak ada kemudian yang merasa dirinya hitam, justru mereka merasa dirinyalah sang putih itu yang akan membenci dan memerangi sang hitam (membahayakan). berbeda dengan didikan mayarakat jawa dahulu, dalam pewayangan dikisahkan bahwa pandawapun pernah berbuat salah, sedang kurawa sebagai antagonis juga berkeinginan untuk menjadi manusia yang baik seperti pandawa.

perlu kita membuka manuskrip lama tentang bagaimana orang jawa dalam mendidik anak-anaknya. diakui atau tidak faktanya telah ribuan tahun masyarakat jawa hidup dalam kearifan yang luar biasa, sopan santun dengan unggah-ungguhnya dan  masyarakat jawa hidup guyub rukun dengan penuh toleransi, bayangkan agamapun dapat disatukan tanpa pertumpahan darah dalam masyarakat Jawa (tentu anda ingat percampuran hindu-budha dalam sejarah), pun demikian dengan masuknya islam di jawa dengan walisongo sebagai motornya, islam disampaikan dengan indah dan disambut dengan ramah oleh orang jawa, sampai-sampai dikatakan bahwa secara muamalah orang jawa sudah islami sebelum islam datang dan walisongo menggunakan kearifan lokal itu dalam dakwahnya, sehingga yang ditanamkan tinggallah tauhid saja. berbeda dengan timur tengah misalnya yang penuh tumpahan darah (hingga saat ini dan ilaa yaumil qiyamah) yang sampai-sampai harus diturunkankan ratusan nabi dan rosul untuk memperbaiki akhlak umatnya. tentu harus ada tanda tanya besar ? bagaiman sich masyarakat jawa dalam mendidik anak-anaknya ?

Tentu sifat demikian tidak terbangun secara “fitrah” apalagi secara instan, sebagai manusia modern tidak patutlah kita memaknai sesuatu dengan ujug-ujug dan sudah dari sononya, kearifan masyarakat jawa dibangun dari bagaimana mengajarkan nilai-nilai luhur budaya melalui cerita-cerita dan tembang-tembang dolanan pada anak-anaknya. ikatan hubungan emosional dengan sang ayah dibangun sejak dini, melalui pitutur luhur dan cerita-cerita hikmahnya, sedang sang ibu mengajarkan tembang-tembang dolanan yang sarat akan makna yang dalam. melalui doktrinisasi dengan metode “santai dan guyon” itu telah terbukti membentuk mental manusia yang arif dan bijak. dan jika ditengok referensi sejarah islam dijawa, walisongopun menggunakan tembang anak-anak sbg media dalam menyampaikan dakwahnya, ini menjelaskan bahwa walisongo itu adalah ulama yang mengenakan JAS MESI (jangan sekali-kali meninggalkan Tradisi) dengan melestarikan tradisi-tradisi luhur masyarakat jawa dan menambahkan nilai baru ketauhidan Islam, juga dapat diartikan bahwa walisongo itu adalah komunitas yang cerdas, yang mengerti betul efektifitas metode pendidikan model jawa (melalui lakon cerita dan tembang dolanannya) dalam membentuk kepribadian anak, padahal walisongo bukanlah orang jawa, tapi njawani lan ora mung Ngarab’i .

tembang-tembang dolanan seperti cublek-cublek suweng, gundul-gundul pacul, ilir-ilir dan padang bulan telah hidup dan berkembang menemani keceriaan bocah-bocah jawa. sambil dolanan mereka melantunkan tembang-tembang dengan makna yang dalam, lalu apakah mereka mengerti akan makna yang dalam itu…? waktulah yang akan menjawab, disini istimewanya metode pendidikan jawa, sang anak diberikan kebebasan bernyayi untuk kemudian timbulah pertanyaan akan makna dari apa yang ia nyayikan selama ini, baru kemudian sang ayah dan ibu menjelaskan filosofi dari makna tembang-tembang itu. kemudian setelah dirasa mulai dewasa diajarkanlah cerita-cerita hikmah seperti cupu manik astagina, petruk dadi rojo, cinde laras, baru klinthing dan cerita-cerita dari para sesepuh wali yang luar biasa.

berikut beberapa tembang dolanan dan maknanya :

1. #Gundul- Gundul Pacul#

“Gundul gundul pacul-cul, gembelengan Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar.. Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

(Tembang Jawa ini diciptakan tahun 1400 an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yg dalam dan sangat mulia.)

Gundul:

adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang.Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala.Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota.

Sedangkan “pacul”: adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul:adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani. Gundul pacul artinya:bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas).Artinya bahwa:kemuliaan seseorang akan sangat tergantung empat hal, yaitu:bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.2.Telinga digunakan untuk mendengarnasehat.3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan:

Gembelengan artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat. Tetapi dia malah:

1. menggunakan kekuasaannya sebagai kemuliaan dirinya.

2. Menggunakan kedudukannya untuk berbangga-bangga di antara manusia.

3. Dia menganggap kekuasaan itukarena kepandaiannya.

Nyunggi wakul, gembelengan Nyunggi wakul artinya:membawa bakul (tempat nasi) di kepalanya.Banyak pemimpin yang lupa bahwa dia mengemban amanah penting membawa bakul dikepalanya.

Wakul adalah: simbol kesejahteraan rakyat.

Kekayaan negara, sumberdaya, Pajak adalah isinya. Artinya bahwa kepala yang dia anggap kehormatannya berada di bawah bakul milik rakyat.

Kedudukannya di bawah bakul rakyat. Siapa yang lebih tinggi kedudukannya, pembawa bakul atau pemilik bakul?

Tentu saja pemilik bakul.Pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya. Dan banyak pemimpin yang masih gembelengan (melenggak lenggokkan kepala dengan sombong dan bermain-main). Akibatnya, “Wakul ngglimpang segane dadi sak latar” Bakul terguling dan nasinya tumpah ke mana-mana.Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya akan tumpah ke mana-mana. Dia tak terdistribusi dengan baik. Kesenjangan ada dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tak akan bisa dimakan lagi karena kotor. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat..

2. #Cublek-Cublek Suweng#

“Cublak-cublak suweng,

suwenge teng gelenter,

mambu ketundhung gudhel,

pak empo lera-lere,

sopo ngguyu ndhelikake,

Sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong.”

berikut kita sibak maknanya :

Cublak-cublak suweng,

Cublak adalah tempat, dan Suweng adalah nama salah satu jenis perhiasan wanita (harta yang sangat berharga). Dalam lirik pertama digambarkan bahwa ‘ada sebuah tempat dimana tempat tersebut menyimpan harta yang sangat berharga

Suwenge teng gelenter,

Suwenge adalah nama jenis perhiasan tersebut atau harta yang sangat berharga tersebut. Teng Gelenter adalah berserakan dimana-mana, terdapat dimana-mana, ada disemua arah penjuru.

Mambu ketundhung gudhel,

Mambu adalah tercium. Ketundhung adalah dituju. Gudhel adalah sebutan anak Kerbau. Tercium yang kemudian dituju oleh anak Kerbau. Lirik ini menggambarkan adanya sebuah kabar yang didengar oleh orang bodoh atau orang yang tidak tahu (digambarkan sebagai Gudhel) . Orang-orang yang tidak tahu ini mendengar sebuah kabar yang kemudian menuju ke arah kabar tersebut.

Pak empo lera-lere,

Pak empo adalah gambaran dari orang-orang bodoh tersebut. Lera-lere adalah tengak-tongok kiri kanan. Lirik ini menggambarkan bahwa orang-orang bodhoh tersebut hanya tengak-tengok kiri-kanan tidak tahu apa-apa.

Sopo ngguyu ndhelikake,

Sopo ngguyu adalah siapa yang tertawa. Ndhelikake adalah menyembunyikan. Lirik ini menggambarkan bahwa ada yang menyembunyikan sesuatu dan tetap tertawa. Artinya ia tertawa bahwa tahu ada sesuatu yang disembunyikan.

Sir-sir pong dele kopong,

Pong adalah pengulangan kata dari dele kopong. Dele kopong adalah kedelai yang kosong tidak ada isinya. Lirik ini menggambarkan tentang kekosongan jiwa, kekosongan pikiran, kekosongan ilmu, dan juga Orang yang banyak bicara tapi sedikit ilmunya. Sedangkan Sir artinya hati nurani. Sir disini merupakan jawaban dari pertanyaan pertama diatas.

Mari kita rangkai lagu ini secara utuh:

Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter, mambu ketundhung gudhel, pak empo lera-lere, sopo ngguyu ndhelikake, Sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong.

Kemudian mari kita maknai secara utuh agar kita mendapatkan keutuhan dari filosofi lagu ini:

Ada sebuah tempat, dimana tempat tersebut menyimpan harta yang sangat berharga (Cublak-cublak suweng). Namun walaupun ada tempatnya, harta yang sangat berharga tersebut tercecer dimana-mana, terdapat dimana-mana (suwenge teng gelenter).

Disini menjadi sebuah pertanyaan awal: bila ada sebuah tempat dan tempat tersebut menyimpan harta sangat berharga, sedangkan harta itu sendiri tercecer dimana-mana, terdapat dimana-mana. Tempat manakah itu? Tempat yang menyimpan harta namun hartanya terdapat dimana-mana. Lha kan aneh? Hartanya tersimpan disebuah tempat namun harta tersebut juga berada dimana-mana.

Sang penulis lagu ini sedang membeberkan konsep ‘keberlimpahan’ menjadi sebuah lagu sederhana.

Mari kita cermati lebih lanjut. Suwenge teng gelenter yang menggambarkan bahwa harta yang sangat berharga tersebut tercecer dimana-mana, terdapat dimana-mana adalah sebuah gambaran keberlimpahan hidup. Disekeliling kita, kanan kiri atas bawah terdapat harta tersebut. Tentu saja ini sebuah berita yang mengejutkan bagi sebagian orang yang disini digambarkan sebagai ‘Gudhel’: Benarkah keberlimpahan hidup tidak jauh dari kita? Masak sih? Dimana tempatnya sehingga aku bisa mudah mengambilnya?

Berita tersebut memicu orang-orang bodoh, orang-orang berpengetahuan sempit (mambu ketundhung gudhel) untuk bergegas mencarinya. Mereka karena tidak dibekali pengetahuan jiwa maka walaupun banyak yang merasa menemukan harta yang mereka anggap berharga, tetap saja mereka masih merasa kurang dan selalu menengok kiri-kanan (pak empo lera-lere). Kesuksesan, materi, nama besar, jabatan, yang semua itu dianggap keberlimpahan tetap saja mengakibatkan bingung dan tidak puas. Mereka masih ‘pak empo lera-lere’. Pak empo lera-lere juga dapat menggambarkan penderitaan dari orang-orang bodoh yang merasa menemukan keberlimpahan tersebut.

Dibalik semua itu, ada orang-orang yang sudah menemukan keberlimpahan. Mereka yang sudah menemukan harta yang sangat berharga tersebut, melihat orang-orang yang selalu mengejar keberlimpahan palsu, mereka hanya tertawa saja (sopo ngguyu ndhelikake). Mereka tertawa seakan-akan menyembunyikan rahasia: eh bukan itu lho! Itu palsu! Itu hanya ilusi dunia!

Lalu yang terakhir, orang-orang bodoh ini, para Gudhel ini yang kemudian malah berkoar-koar sudah menemukan. Mereka banyak bicara, bahkan mengajarkan cara untuk menemukannya. Padahal ‘dele kopong’, dele kopong yaitu yang banyak bicara adalah orang tak berisi. Dele kopong bila dalam peribahasa Indonesia adalah Tong kosong nyaring bunyinya.

Konsep keberlimpahan hidup dalam lagu Cublak-cublak Suweng ini sangat istimewa. Orang-orang bodoh selalu mencarinya keluar dari dirinya (mambu ketundhung gudhel) sehingga ia tetap merasa bingung dalam hidup (pak empo lera-lere). Sementara orang bijaksana (sopo ngguyu ndhelikake) menyadari bahwa tempat rahasia (cublak) yang merupakan tempat menyimpan harta sangat berharga (suweng) yang sekaligus membuat harta tersebut tersebar dimana-mana (suwenge teng gelenter) ada di dalam ‘Sir‘ (kata pertama dalam kalimat sir sir pong dele kopong), Sir adalah hati nurani manusia!

Di lain daerah (diingatkan oleh sahabat saya, mas Ronggo Sutikno dari Jawa Timur), lirik terakhir ada yang berbunyi demikian:

Sir sir pong udele bodong, sir sir pong udele bodong

Lirik ini juga merupakan sebuah nasehat atau ‘jalan’ istimewa untuk menemukanCublak itu tadi. Bagaimana caranya menemukan tempat bagi harta yang sangat berharga tersebut? Yaitu sir pong udele bodong!

Sir adalah Hati Nurani, sedangkan pong udele bodong adalah sebuah ‘sasmita’ atau gambaran tentang wujud yang tidak memakai apa-apa sehingga udel atau pusarnya kelihatan. Telanjang atau orang yang tidak memakai artibut apa-apa adalah orang sederhana, rendah hati, mengedepankan rasa dan selalu memuliakan orang lain. Yang akan menemukan ‘Cublak’ tersebut adalah orang yang polos, tidak memakai atribut, tidak memakai ego kepemilikan dan kemelekatan, dan itu bukanlah para Gudhel! Ia sekali lagi adalah para pong udele bodong, yaitu orang-orang polos, sederhana, dan bersih hatinya. (Sumber : Agung Webe).

perlu dengan fair kita menilai, bahwa pendidikan modern model barat telah melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang “hebat”. Namun kita juga harus fair menilai bahwa pendidikan model barat telah melahirkan manusia yang rakus dan eksploitatif pada alam, seperti yang didawuhkan dlm al Qu’ran bahwa “telah terjadi kerusakan di muka bumi disebabkan oleh tangan-tangan manusia“, belum lagi dengan bobroknya moral dan kesopanan yang dihasilkan oleh proses pendidikan barat yang dibangga-banggakan. coba tengoklah masyarakat pedalaman yang oleh masyarakat modern dijustifikasi sebagaimanusia primitif , mereka dengan kearifan lokalnya mampu menjaga keseimbangan alam (bukankah ini kecerdasan !). atau kita kemudian terpukau dengan kesilauan “jubah suci” pendidikan timur tengah yang lagi-lagi kita harus fair bahwa ditempatnya telah gagal menciptakan tradisi beradab penuh perdamaian. justru dari sanalah kita mengenal Pembantaian atas nama Tuhan dan bahkan yang sedang ngetrend adalah “bunuh diri atas nama tuhan”. kembalilah pada fitrahmu (sebagai manusia mana engkau dilahirkan), jadilah apa yang Tuhanmu ciptakan padamu dan untukmu !  itu adalah wujud syukur yang dalam, karena tuhan telah memberikan ilmu dan bimbingan sesuai dengan kemampuan atau khrakteristik umatNya. dan telah diciptakan manusia dalam bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dan menghormati. Wallahul muwaffieq ilaa aqwamith tharieq. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *