Parade Militer, Gelar Kekuatan, Narasi Keunggulan dan Respon Ancaman

Parade Militer, Gelar Kekuatan, Narasi Keunggulan dan Respon Ancaman

Jurnalexpress.Com.- Beberapa kosa kata yang terus mewarnai berbagai halaman media massa saat ini, adalah narasi – narasi tentang gelar kekuatan negara adikuasa yang dipamerkan dalam berbagai parade militer. Gelar kekuatan itu sengaja dipertontonkan untuk membawa pesan kepada internal dan eksternal. Secara internal diharapkan bisa membangun kepercayaan, kebanggaan dan semangat patriotisme. Kepada eksternal ingin menyampaikan pesan, agar jangan pernah berani macam – macam dengan kekuatan kami. Begitulah kurang lebih pesan yang ingin disampaikan. Tak lupa biasanya diakhiri dengan jargon dan adagium untuk membangkitkan semangat juang.

Pada kesempatan ini, media meminta tanggapan Pemerhati Teknologi Pertahanan Dede Farhan Aulawi di Bandung, Minggu (29/12). Menurut Dede memang benar narasi keunggulan militer terutama dari negara – negara besar, seperti China, Rusia dan AS banyak dipertontonkan. Baik untuk membangun kebanggaan internal, “menakuti” eksternal, sekaligus promosi produk unggulannya. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ucap Dede.

Selanjutnya Dede memberi contoh apa yang disampaikan Presiden China, Xi Jinping saat peringatan 70 tahun berdirinya China. Ia menegaskan bahwa ‘tidak ada kekuatan’ yang bisa mengguncang China. Pada kesempatan tersebut, PLA melakukan parade militer dengan memamerkan armada militer terbaru, termasuk rudal balistik antarbenua jenis DF-41 yang memiliki kemampuan membawa muatan nuklir dan mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat (AS) dan peluncur rudal DF-17 yang memiliki kemampuan hipersonik. Ujar Dede.

Di samping itu, Dede juga menyampaikan tentang pengakuan Rusia yang menyatakan bahwa kecepatan Rudal Hipersoniknya 30 ribu km per jam. Perlu diketahui bahwa senjata hipersonik adalah rudal yang memiliki kecepatan tempuh lebih dari 6.125 kilometer per jam.

” Kita jadi teringat saat Presiden Rusia Vladimir Putin meluncurkan Avangard bersama dengan beberapa senjata andalan lainnya pada Maret 2018. Ia menekankan HGV itu mampu melakukan manuver tajam menuju target guna menghindari sistem pertahanan rudal. Sebagaimana kita ketahui bahwa avangard memiliki kemampuan terbang 27 kali lebih cepat dari kecepatan suara. Senjata tersebut merepresentasikan terobosan teknologi cerdas berbasis artificial intelgence (AI) “, ungkap Dede.

Tentu bukan hanya itu yang dipamerkan, dipromosikan dan dibanggakan oleh Moskow, karena secara keseluruhan ada lima sistem persenjataan canggih yang digelar sebagai kekuatan militer unggulannya. Kelima sistem tersebut adalah (1) Rudal Jelajah Burevestnik, (2) Sistem peluru kendali Avangard, (3) Rudal balistik antarbenua (ICBM) Sarmat, (4) Kapal selam nirawak Poseidon, dan (5) Rudal hipersonik Kinzhal.

Rudal Jelajah Burevestnik merupakan senjata yang ditenagai mesin nuklir kecil dan membawa hulu ledak nuklir, dengan kapabilitas jarak tempuh tak terbatas dan “tak bisa dikalahkan seluruh sistem pertahanan rudal yang ada”.

Sistem rudal hipersonik Avangard adalah rudal antarbenua dengan kemampuan terbang secepat Mach 20, belasan ribu kilometer.
Saat mendekati sasaran, rudal dengan hulu ledak yang bisa bermanuver ini mampu menyesuaikan ketinggian dan arah untuk menghindari pertahanan dan terbang cukup rendah untuk menghindari rudal pencegat.

ICBM Sarmat merupakan
sistem ICBM tercanggih, dan dibuat untuk menggantikan ICBM sebelumnya.

Kapal Selam Nirawak Poseidon, adalah kapal selam yang bisa membawa hulu ledak dan mengincar pelabuhan atau kapal induk. Sumber tenaga nuklirnya mampu memberi Poseidon jarak tempuh antarbenua. Poseidon diluncurkan dari kapal selam bertenaga nuklir dan bergerak mandiri menuju sasarannya.

Rudal hipersonik Kinzhal, merupakan rudal yang dipasang pada pesawat tempur Rusia MiG-31K dan pengebom jarak jauh Tu-22M3. Kinzhal dibawa hingga kecepatan terbang minimum oleh pesawat jet dan dilepaskan untuk menyalakan mesin propelan-padatnya sendiri, sehingga senjata ini mampu melaju secepat Mach 10.

” Jika melihat konteks geostrategisnya, gelar kekuatan dan parade militer tersebut juga sebagai respon atas situasi dari lingkungannya. Seperti diketahui, bahwa Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tengah memperkuat pasukan di perbatasan sebelah barat Rusia. Lalu AS juga mengundurkan diri dari Pakta Senjata Nuklir Jarak Menengah 1987. Kedua variabel ini dinilai oleh Moscow sebagai ancaman nyata terhadap Rusia “, pungkas Dede menutup perbincangan santai di hari Minggu yang mendung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *