PMII Pergerakanku

Tantangan besar PMII saat ini adalah penguatan kapasitas kader dan anggota PMII. Fakta hari ini minat untuk mengembangkan platfon organisasi PMII sebagaimana diketahui bahwa organisasi yang berlambang perisai ini adalah organisasi yang dikenal sebagai organ kaderisasi dan gerakan.

Minimal harapan kedepan dengan kondisi PMII hari ini anggota dan kader harus bisa mengejawantahkan pemikiran-pemikiran gerakan nasional yang kekinian. Disisi lain itu juga organisasi kemahasiswaan bintang sembilah ini bukan hanya mengadopsi pemikiran issu-issu nasional, tetapi bagaimana anggota dan kader PMIIharus bisa survive didengan kondisi lokalitas masing-masing cabang ditiap-tiap kabupaten dan kota. Hasil yang diharapkan adalah anggota dan kader PMII bisa menjadi sentrum gerakan mahasiswa minimal dilingkungan kampus.

Sebagai kelompok yang lahir dalam lingkungan kampus, PMII mendasarkan argumentasi aksinya dengan perangkat-perangkat keilmuan yang populer di dunia civitas akademika. Dengan tanpa menghilangkan latar ideologis lahirnya dari NU, PMII mengadaptasi pemikirannya dari tradisionalisme Islam khas pesantren.
Suatu fase saat PMII mengkonsepsikan gerakannya berdasar argumentasi kiri pernah terjadi. Terutama saat republik ini dibawah kekuasaan Orde Baru. Dekonstruksi dan rekonstruksi pemahaman ajaran agama, aswaja sebagai manhaj al-fikr, ide pribumisasi Islam, pluralisme, hingga konsep antropomorphisme-transendental adalah beberapa item yang akrab dalam kawah intelektualisme di lingkungan PMII.

Menilik dari gerakannya, aksi-aksi yang dilakukan PMII di seluruh sektor kemasyarakatan bertumpu-tujuan pada upaya-upaya humanisasi. Dalam bahasa Jawa yang gampang, nge-wongke. Inilah fungsi dan bentuk ideal-nya PMII ditengah-tengah masyarakat dan dalam berhadapan dengan kekuasaan. Pembelaannya pada kelompok yang termajinal, terdiskriminasi, dan perlawanannya terhadap kesewenangan dan ketimpangan yang diakibatkan kekuasaan. Meminjam istilah Gramsci intelektual organik, PMII selalu mencoba mewujudkan dirinya sebagai eksponen bangsa yang berkecimpung dalam intelektualisme dan aktifisme. Tolok ukurnya ialah kapasitas pengetahuan dan komitmennya berpihak pada humanisme.

Memang kita tidak dapat menutup mata bahwa sebagian kader PMII tentunya secara praktis ada yang berkecimpung di dunia politik. Baik itu sebagai kandidat, hingga yang turun ke medan kampanye sebagai tim sukses. Baik itu yang sudah nyemplung disana, maupun yang baru ancang-ancang. Yang demikian itu bukan berarti tak ideal sebagai kader PMII, hanya kembali ukurannya kepada kapasitas intelektual dan keberpihakan pada nilai-nilai humanisme. Kapasitas ini melampaui ungkapan-ungkapan dan ekspresi jargonik semata. Ia haruslah mewujud menjadi prestasi yang mampu dirasakan oleh masyarakat umum.

Oleh : Moh. Rofiq Risandi ( Kader PMII Rayon Al-Fanani komisariat Unisma)
Mahasiswa : Universitas Islam Malang
Fakultas : Ilmu Administrasi
Prodi : Administrasi publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *