Ketua GNPK-RI Kota Pasuruan Angkat Bicara Tentang Hidupnya Kembali Gerakan Mahasiswa

Publik Tanah air beberapa hari ini kembali gregah dan antusias kala elemen Mahasiswa dari beberapa penjuru negri kembali turun kejalan menggelar aksi demonstrasi. Gerakan Mahasiswa yang bergelombang menuntut sejumlah penghapusan atas RUU dan UU Yang dibahas dan disahkan oleh DPR RI tersebut sontak menghidupkan romantisme sejarah gerakan Mahasiswa yang tercatat gemilang dalam sejarah.

Untuk itu kami mewawancarai Zulkarnain (25/09/2019), mantan aktivis Mahasiswa yang saat ini menjabat sebagai Ketua PD Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi Republik Indonesia (GNPK-RI) Kota Pasuruan

JurnalExpress.Com : Mas Zul, seperti kita ketahui bersama publik tersentak dengan kembali hidupnya gerakan mahasiswa, bagaimana pandangannya terkait demo yang terjadi saat ini?

Zulkarnain : Demo yg menurut saya cukup bagus untuk kembali menghidupkan ekosistem gerakan mahasiswa karena sudah jamak kita ketahui selama ini mahasiswa kita cukup pasif menghadapi beberapa isu strategis nasional.
Banyak mantan aktivis mahasiswa yang khawatir eksosistem gerakan sudah punah dalam diri mahasiswa kita, karena mereka pada sibuk dengan gadget dan gaya hidup yang ‘ambyar’

JurnalExpress.Com : Apa yang menjadi catatan khusus anda dalam melihat fenomenan gerakan mahasiswa saat ini?

Zulkarnain : Yang menjadi catatan penting adalah sejauh mana alam diskusi dan telaah kritis mahasiswa itu tumbuh kini, melihat demo hari ini saya kok memandang mereka demo karena sentimen yang terbawa dari media sosial. Bukan lahir dari hasil kajian yang runut dan kritis ala aktivis mahasiswa. Tentang RUU KUHP misalkan, bukankah ini RUU yg sangat Indonesia karena untuk pertama kali kita punya UU KUHP buatan Indonesia setelah selama ini mewarisi hukum kolonial.
Penolakan sama sekali tanpa memberi Catatan penting pada pasal apa yang ditolak menurut saya kurang elegant.
Terlebih pemerintah membuka ruang dialog dengan menunda pengesahan RUU tersebut.

JurnalExpress.Com : Baik mas. Memang Hari ini media sosial seperti dua mata pisau. Gerakan sosial bisa semakin besar karena pengaruh media sosial, Lantas, Apakah mas zul sepakat jika aksi demo 2019 ini disamakan dengan 98?

Zulkarnain : Saya menganggapnya berbeda. Dahulu sebelum aksi 98 kita banyak temukan serakan sejarah yang mencatat forum forum diskusi demokrasi di beberapa kampus dan organisasi gerakan. Kalau kini kita tak tahu dimana mereka menghidupkan obor diskusinya.
Secara politik juga tidak ada oligarki dan kekuasaan yg super power dalam demokrasi kita saat ini. Yang ada malah ada lembaga KPK yang memiliki super power sehingga tidak mau ikut proses check and balance.
Padahal niat utama reformasi adalah meniadakan lembaga super power. Ingat dalam konstitusi dasar kita hanya MPR yg memiliki trah super power, tapi reformasi menjadikannya sebagai lembaga tinggi yang setara dengan lembaga tinggi lainnya.

Lebih lanjut Zulkarnain juga menghimbau kepada semua pihak untuk tidak terprovokasi dalam tindakan-tindakan yang dapat memperkeruh situasi “Untuk teman Mahasiswa dan masyarakat, mari berpikir strategis seraya merenungkan ucapan dari Sayidina Ali Kwj : Dalam masa kekacauan sosial, jadilah Onta muda yang tak berpunggung cukup kuat untuk ditunggangi dan juga tak punya susu untuk diperah” ujar pria asli pasuruan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *