Teti Eryani, Kembang Desa yang Suka Menyendiri Ini Mahir Melukis

Ia sangat mahir melukis, bahkan karya-karyanya dibeli oleh banyak pejabat, tidak hanya dari Jawa, tapi juga di luar Jawa.

Subang, JurnalExspress.com – Namanya Teti Eryani, perempuan berkulit putih ini lahir di sebuah dusun kecil di daerah Subang, Jawa Barat. Tepatnya di kampung Cipanandur, desa Tanggulun Barat, Kalijati, Subang.

Teti, begitu ia sering disapa para sahabatnya sejak kecil, ia memiliki sifat sangat pendiam, menyendiri dan tidak begitu suka bergaul. Sifat ini kadang menjengkelkan teman-temannya, karena ia kerap menolak untuk diajak jalan.

Teti Eryani menunjukkan salah satu lukisannya.

Akan tetapi, sisi itu tidak membuat ia berkecil hati, sebab dibalik ‘diamnya’ Teti, tersimpan potensi seni yang luar biasa.

Bagaimana tidak, hari-harinya sering ia isi bukan dengan banyak murunga tau mela

mun alias “galau” kata anak zaman now. Tetapi ia habiskan dengan mengembangkan potensi seninya yang menghipnotis. Yaitu curat coret di buku, menorehkan imajinasi membentuk sebuah gambar, dan tereeh! Jadilah sebuah lukisan yang mempesona.

 

“Itulah hobiku! Melukis. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun, saya selalu mengekspresikan kondisi hati ke sebuah buku gambar, atau kertas kosong. Anganku ingin sekalu rasanya menjadi seorang pelukis, karna melukis seolah sudah menjiwa, bersatu dalam jiwa ini,” curhatnya penuh ekspresif, menggambarkan betapa besar keinginan dia untuk menjadi pelukis terkenal.

Walupun ia menyadari, bahkan lebih menyadari betapa sepi rasanya ia dalam jalan itu. Sebab hari-harinya ia hanya menyelami hening, sangat hening, bahkan suara nafasnya sendiri dapat terdengar nyaring.

Teti Eryani bersama Bupati Subang, saat memperlihatkan hasil lukisannya.

“Karna saya gak punya teman yang sehobi. Dan gak tau kemana arahnya hobiku untuk disalurkan. Karena memang saya kurang bergaul. Yang pada akhirnya diusiaku yang sudah hampir setengah abad ini, saya menemukan dunia saya yang sesungguhnya,” keluhnya penuh empati.

Namun kesedihan-kesidahn yang ia rasakan kadang tiba-tiba hilang bersama mega senja, tatkala ia dapat menyelesaikan satu lukisannya. Ia begitu sangat Bahagia, memandang kembali hasil karyanya yang menakjubkan.

“Saya sudah memiliki teman pelukis yang banyak, dan gabung dengan mereka di komunitas pelukis. Ikut berbagai iven di komunitas. On the spot, pameran, dll,” legahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *