Perihatin Kondisi Lingkungan, SUTA Bentuk Satker Untuk Ubah Sampah Plastik dan Organik Jadi Berkah

Jakarta, JurnalExpress.com – Setelah melakukan penanganan sampah selama 3 tahun ini, KUP SUTA Nusantara akan membentuk Satuan Kerja (Satker) yang khusus untuk lebih mengembangkan pengolahan sampah, baik sampah plastik maupun organik menjadi lebih besar.

Program ini merupakan  button up program, dimana pertama kali dijalankan dan dikelola oleh Ari Wijaya, Ketua Pimpinan Wilayah KUP SUTA Nusantara Sumsel. Ari mengembangan sampah terpadu di kecamatan Kalidoni,  Kota Palembang, sejak tiga tahun yang lalu, dan kini sudah sangat baik manajemennya serta telah mendapatkan banyak penghargaan dari pemerintah setempat.

Di tempat yang berbeda, sejak satu tahunan lalu program yang sama dilaksanakan oleh Wiyatmoko, Ketua Bakorda KUP SUTA Nusantara, kabupaten Toli Toli, Sulawesi Tengah. Selain itu, program yang sama pernah dijalankan oleh Dahlan Abdullah, Bendahara Umum Pimpus KUP Suta, beberapa tahun lalu di Jakarta Selatan, begitu juga dilakukan oleh anggota KUP SUTA yang lain di bantaran kali Ciliwung  Jakarta dan Citarum Bekasi.

Menurut Ketua Umum KUP Suta, Dadung Hari Setyo, dari berbagai pelaksanaan program tersebut, penanganan sampah yang mendapat perhatian khusus ada di kota Palembang. Di daerah ini telah mendapatkan penghargaan Kalpatarupun diberikan oleh pemerintah Provinsi Gubenur Sumatra Selatan, Herman Deru.

“Selain mendapatkan penghargaan tersebut, Ari Wijaya juga berhasil melaksanakan program pemberdayaan masyarakat. Pengolahan sampah telah dapat membuka lapangan pekerjaan juga,” terang yang akrab dipanggil Masda ini, Jakarta, Kamis, (22/8/19).

Oleh karena itulah, Masda melanjutkan, pola dan permodalan pengelolaan sampah plastik dan organik tersebut akan dikembangkan di jajaran KUP SUTA Nusantara dengan tahapan dan dibentuk Satker, baik ditingkat nasional sampai di daerah.

“Dan sebelum mengawali pelaksanaan program SUTA akan melaksanakan Diklat manajemen pengolahan sampah terpadu,” kata Masda.

Lebih lanjut ia mengemukakan, sampah.adalah sebuah material yang sudah tidak berguna, namun berangkat dari keperdulian SUTA, Satker sampah kabupaten Tolitoli, mencoba untuk membuka Bank Sampah.

“Dengan jelajahi pulau, laut, pesisir dan pemukiman padat penduduk. Dengan cara memberikan edukasi ke masyarakat tentang danpak bahaya sampah pelastik. Lambat laun saya berharap sampah pelastik di Indonesia bisa berkurang,” harapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *