Banyak Potensi Rempah yang Terabaikan di NTT, Alfan: SUTA Akan Kelola Semuanya Untuk Kesejahteraan Petani

Jakarta, JurnalExpress.com – Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku Utara merupakan propinsi yang kaya akan komoditi rempah-rempah dan hasil laut dengan nilai ekonomi yang tinggi, namun masih banyak yang masih terabaikan.

Hal itu disampaikan Ketua Umum KUP SUTA Nusantara Dadung Hari Setyo. Menurutnya, potensi tersebut belum banyak tersentuh oleh pelaku usaha, artinya  belum  dikelola untuk meningkatkan penghasilan masyarakat dan daerah.

“Terkait dengan potensi tersebut, beberapa lima bulan yang lalu menugaskan Mas Alfan Arif sebagai Ketua Pimpinan Wilayah KUP SUTA Nusantara provinsi Jawa Timur untuk melakukan observasi  ke  Maluku Utara dan NTT, dan hasil observasi tersebut dapat diidentifikasi potensi pengembangan usaha agribisnisnya,” terang yang biasa disapa Masda, Kamis (22/8/19).

Dalam waktu yang sama Alfan Arif  menambahkan, akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020, pihaknya siap bersinergi dengan jaringan KUP SUTA Nusantara baik di NTT maupun di Maluku, untuk mengelola itu semua untuk membangun kesejahteraan petani.

“Kami di Jawa Timur siap bersinergi dengan jaringan SUTA di Maluku Utara dan NTT. Jawa Timur saat ini pintu gerbang eksport-import komoditi dari Indonesia Timur. Kamipun sudah banyak menerima permintaan komoditi rempah dan hasil laut dari beberapa negara di Timur Tengah, India dan beberapa negara di Eropa,” ungkapnya.

Alfan mengatakan, di Jatim selalu koordinasikan dengan pelaku usaha yang tergabung di Jawa Timur, dan Pimpus SUTA Nusantara juga banyak memberikan rekomendasi terkait strategi permodalan dan investasi untuk pengembangan  industri kecil dan menengah, pengolahan kopi, coklat, jahe, kopra, kemiri dan cangkang kemiri.

“Komoditi tersebut sangat besar kebutuhannya, bisa sampai ribuan ton per bulan. Maluku Utara dan NTT ada potensi yang belum tergarap dengan bagus. Salah satunya yaitu tempurung batok kelapa yang hanya dibuang, padahal itu merupakan komoditi ekport ke China dan Jepang,” imbuhnya.

Menurut Alfan, NTT  merupakan propinsi dengan penghasil daun kelor dan kemiri terbesar di Indonesia. Untuk itu, ia sangat menyambut sekali gagasan Masda untuk melakukan langkah kordinasi antara Pimpinan Wilayah KUP SUTA Nusantara di Indonesia Timur dengan Jawa Timur.

“Ini kordinasi untuk percepatan tahapan dan proses yang strategis dan Insya Allah akhir tahun 2019 atau awal tahun 2020,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *