Ketua DNIKS Minta Pemerintah Perbaiki Kebijakan Soal Ternak 

Jakarta, Agriculturenews.id – Kementerian Pertanian sedang berupaya mengembangkan susu kambing etawa sebagai sebuah komoditi untuk dipasarkan secara luas di penjuru tanah air.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) Tantyo Adji Pramudyo Sudharmono, mengatakan bawah, secara pribadi dirinya tidak bisa mengerti dan tidak bisa memahami kebijakan pemerintah khususnya Kementrian Pertanian dalam menangani komoditi hewan ternak, khususnya kambing.

Salah satu contoh, kata Tantyo, yang paling obvious (jelas terlihat) di masyarakat umum banyak sekali beredar susu kambing Etawa. Padahal kambing Etawa itu tidak termasuk katagori kambing perah. Kambing Etawa termasuk kambing Kaligesing, sebetulnya lebih merupakan kambing potong atau pedaging yang aslinya berasal dari daerah Jamnapari, India.

“Tapi barangkali karena kurangnya penyuluhan atau bahkan tidak adanya cetak biru peternakan Indonesia,” terang Tantyo, Jakarta, Minggu (18/8/19).

Selain itu, menurutnya, yang membedakan antara kambing pedaging dengan kambing perah, adalah, dimana kambing perah jumlah produksi susunya jauh lebih banyak dari pada kambing potong. Beberapa jenis kambing perah mampu menghasilkan susu beberapa puluh liter per hari per ekornya. Sedangkan kambing potong jumlah kenaikan berat badannya jauh lebih cepat dari kambing perah, sehingga lebih hemat dalam biaya pakan per harinya.

“Di dunia sebenarnya ada 7 jenis utama kambing perah yang unggul. Ke 7 jenis tersebut adalah Kambing Saanen, Kambing Anglo Nubian, Kambing Toggenburg, Kambing Australian Brown, Kambing Australian Melaan, Kambing British Alpine, Kambing Nigerian Dwarf,” jelasnya.

Tantyo mengatakan, di luar dari ke tujuh jenis kambing tersebut adalah termasuk jenis kambing potong. Di Indonesia, kemungkinan tidak ada jenis kambing perah murni. Yang ada di sekitar Jawa Tengah dan DIY adalah kambing Sapera yang merupakan persilangan antara kambing Saanen dengan PE (peranakan Etawa dan kambing kacang atau kambing rakyat.

“Dalam rangka peningkatan kualitas manusia Indonesia dan kualitas ternak rakyat, sebaiknya pemerintah khususnya Kementrian Pertanian memudahkan perijinan impor kambing, baik kambing perah maupun kambing daging. Karena susu kambing berdasarkan hasil penelitian USDA (United States of Department Agriculture) memiliki kualitas susu yang terbaik setelah ASI. Sedangkan susu sapi justru berada jauh dibawah susu kambing dalam hal kualitas gizinya,” harapnya.

Begitu pula dengan daging kambing, lanjutnya, ternyata memiliki kadar cholesterol yang lebih rendah dari pada daging sapi. Penjualan daging sapi di luar negri banyak yang mencantumkan jenis sapi potongnya dan malah jenis pakan yang dimakan oleh sapi tersebut. Misalnya sapi jenis Black Angus memiliki harga jual yang lebih mahal dari pada jenis sapi lainnya. Malahan, daging sapi yang diberi makan dengan grain (biji-bijian/kacang-kacangan) memiliki harga yang berbeda dengan daging sapi yang diberi makan rumput (grass fed).

“Untuk bisa mencantumkan jenis sapinya, maka para peternak atau breeder wajib memiliki sapi yang pure breed. Cross breed diperbolehkan, tetapi memiliki pure breed akan lebih memberikan hasil jual yang lebih menguntungkan. Sayangnya, pure breed tampaknya kurang menjadi perhatian pemerintah dalam pembinaan terhadap para petani/peternak. Sangat mudah kita menemui sapi yang terlihat agak panjang (limousine) namun berbadan besar dan gempal (brahman). Tampaknya pemerintah lebih mengutamakan kuantitas dari pada kualitas” ungkapnya.

Demikian pula dengan kambing. Malah mungkin lebih menyedihkan lagi perhatian yang kurang dari penerintah. Terbukti dengan rancunya produksi susu kambing potong yang dijual secara bebas. “Saya berharap Pak Jokowi dalam menetapkan mentri pertanian akan memilih orang dengan latar belakang ternak dari pada tani,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *