NEGERI PARA HOAKER DI TENGAH SENGKUNI NUSANTARA

NEGERI PARA HOAKER DI TENGAH SENGKUNI NUSANTARA

Alfan Arif, S.kom

Perkembangan teknologi sangat cepat dan dinamis sehingga memerlukan syarat keilmuan yang paling tidak bisa mengimbangi  sengkarut informasi digital. Masyarakat di tuntut untuk Mengakui peradapan suka atau tidak dengan terpaksa atau tidak informasi  yang masuk seperti gempuran air bah di musim hujan.  Kontestasi  politik sudah selesai namun masih menyisahkan rivalitas diantara cebong dan kampret yang sampai dengan saat ini ujung mereka dalam diskusi apapun tidak pernah menemukan titik kordinat yang pas untuk sekedar saling menyamakan narasi yang adem dan tentram namun sebaliknya mereka mengeluarkan segala kemampuan untuk membully dan kalau bisa meninabobokkan agar narasi meraka menang dan viral di medsos.

Pertikaian Cebong dan Kampret sudah tidak mencerminkan budaya  yang santun dan ber etika karena mereka terjebak dalam fanatisme bodoh yang dikendalikan buzzer teknologi  dan bekerja dalam ruang yang hanya bisa diketahu dari Ip Adress saja, mereka adalah hantu teknologi yang selama ini mengadu domba melebihi adu domba jaman belanda. Banyak narasi dibuat untuk sekedar memviralkan kepentingan atau hanya sekedar melakukan kontra isu agar menjadi berimbang .

Aneh emang kedengarannya masyarakat kita mulai dari yang berpendidikan tinggi sampai yang rendah pun mereka  terlanjut suka instan dengan sangat mengandrungi copy paste tanpa ada koreksi dulu sebelum melempar informasi itu. Begitu informasi masuk dan handphone bunyi klunting langsung seolah berlomba adu kecepatan untuk memviralkan informasi tersebut dan hal tersebut seperti sudah menjadi lifestyle jaman milenial.

Lalu siapa yang di untungkan ketika informasi itu viral??? Buzzer atau mesin hoax sekarang sudah menjadi industri dan pasar mereka jelas untuk meningkatkan nilai jual sesuatu tergantung pesanan apapun pasti akan dikerjakan. Kembali lagi kepada cebong dan kampret yang sebetulnya mereka itu kosong mereka tidak ada mereka bukan obyek atau subyek mereka adalah para hantu teknologi yang bersemayam dalam kepentingan politik. Barang siapa menguasai informasi dialah seorang pemenang tidak peduli informasi itu layak di telan atau di buang di recycle bin yang penting di kuasai . Yang kadang merasa lucu mereka order kepada satu orang sama untuk saling menjatuhkan. Sekali lagi Buzzer sudah menjadi industri kreatif yang keberadaannya masih sembunyi namun tidak sulit di temukan.

Tidak hanya di Indonesia fenomena Hoax hampir menjangkiti dunia seiring berkembangnya teknologi informasi. Yang bisa mengendalikan para Hoaxer sebenaranya kalau sedikit saja berfikir dan tidak berlomba untuk saling cepat memnyebarkan maka pengaruh hoax akan bisa berkurang dengan cara membaca dulu dan membandingkan informasi terkait dengan informasi yang sama tinggal googling kemudian dari situ bisa di telaah apakah informasi itu benar atau hanya fitnah belaka. Bukankah fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Semoga kedepan semakin bijak dalam mengolah informasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *